Kampung Tabrik, perkampungan subur di kaki Gunung Gede Pangrango

Semula saya kebingungan ketika harus menuliskan perjalanan super singkat beberapa waktu lalu di Kampung Tabrik; perkampungan di kaki Gunung Gede Pangrango. Kampung ini tak begitu jauh dari Jakarta, tempat saya kini tinggal. 3 jam perjalanan seharusnya hal sepele bagi orang Jakarta yang setiap harinya harus berjuang menembus antrean mobil dan kopaja di setiap ruas ibukota. Namun  rupanya memang melelahkan. Sepanjang perjalanan saya memilih tidur ketimbang melawan elf yang kami tumpangi menyusuri ratusan kelokan di sekitar Puncak Bogor. Sesekali terbangun, kemudian melanjutkan mimpi di siang bolong.

Di Kampung Tabrik, setibanya saya dan beberapa teman-teman blogger dari Jakarta yang diundang oleh AQUA Lestari, di bawah bayang-bayang Gede Pangrango yang tinggi menjulang, kami disambut oleh warga, beberapa tampak berpakaian dinas. Mungkin dari kelurahan setempat yang juga didatangkan oleh AQUA Lestari untuk bertemu dan berdialog dengan kami, menceritakan keadaan kampung mereka yang telah dibina dan belajar bersama mengelola pertanian dan air di sana.

Pak Djarot, perwakilan dari AQUA, menjelaskan rinci mulai dari perkebunan yang dikelola secara organik, reboisasi sebagai cara mereka terus melindungi alam, hingga air terjun Goong yang tak jauh dari sana. Tak lama setelah beberapa orang bercerita, segera kami meluncur menuju dalam hutan.

“Wah jas hujannya ga ada,” kata Pak Djarot. Saya kecewa mendengar ucapan Pak Djarot kepada kami ketika gerimis mulai turun. Karena saya membawa kamera yang apabila rusak karena hujan, pihak panitia mungkin tak akan bertanggungjawab soal kerugian ini. Apalagi soal kondisi kesehatan kami.

Muklis, salah satu rombongan blogger dari Jakarta, dengan sigap melenggang menuju mobil kami, mengambil dry bag yang disiapkannya dari Jakarta. Setidaknya kamera dan handphone aman, tapi badan kami tidak. Terus diguyur hujan.

Tak jauh dari sana, beberapa orang telah lebih dulu asik foto dengan bibit pohon yang mereka tanam. Semua tampak berantakan. Tangan dan kaki mereka kotor penuh dengan lumpur hasil galian tanah. Badan mereka, tentu basah kuyup. Tapi, raut muka mereka melegakan. Tampak rasa bangga dan bahagia telah menanam pohon, meski tak tahu minggu depan pohon mereka masih hidup atau tumbang. Agaknya proses berlibur memang seperti itu, semua orang berlomba-lomba untuk itu, semakin lama semakin biasa, hingga yang paling menyenangkan adalah berbuat sesuatu yang berdampak positif untuk manusia atau alam. Seperti kata Pitor, sahabat lama saya di Traveller Kaskus, “Kita mulai mencari sesuatu yang lebih dari hedonisme sesaat. Kita perlahan melangkah ke fase berikutnya: dari awalnya jalan-jalan untuk diri sendiri, menjadi jalan-jalan bukan hanya untuk diri sendiri.”

Rasamala adalah pohon yang kami tanam. Cukup banyak ditemukan di pegunungan di Indonesia, mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, dan usianya bisa mencapai 300 tahun. Bila setiap pohon Rasamala menghasilkan 1,2 kg oksigen yang dapat menghidupi 2 orang manusia, maka satu pohon dengan usia sepanjang itu dapat menyelamatkan beberapa generasi manusia, juga makhluk hidup lain.

Rupanya menanam pohon sangat menyenangkan. Meskipun tak secara langsung terasa dampaknya, tapi melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain membuat perjalanan yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

Layaknya mantan, hujan ketika itu cukup memberi harapan palsu. Sesekali kami diguyur hujan yang deras, seketika pula terang. Untung saja sementara kami selesai menanam bibit pohon, hujan berhenti, menolong kami dari kesusahan menyusuri jalanan setapak yang becek.

 

2 thoughts on “Kampung Tabrik, perkampungan subur di kaki Gunung Gede Pangrango

  1. Kalau menanam pohon di sekitar rumah aku pernah mas, nanam pohon mangga lebih jelasnya ahhahah. Dan sekarang pohonnya sudah besar. Dulu nanamnya pas tahun 1996 waktu masih SD.

    Kalau tahun 2000an dulu juga pernah nanam mangrove bareng almarhum bapak. Alhamdulillah sekarang mangrovenya jadi rimbun. Kalau diingat-ingat seru juga dulu pernah melakukan hal yang dulunya aku pikir biasa saja.

    1. dulu pasti gak kepikiran kalau pohon mangga yang ditanem bakal segede sekarang. Kalau diinget-inget, nyenengin juga ya hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *