Bencana Alam Untuk Siapa?

kalo kalian ngikutin berita-berita di twitter atau blog orang, atau mungkin blog gue sendiri ini, maka kalian akan mendapati belakangan orang-orang (termasuk gue) sibuk berteriak tentang eksploitasi alam.. lalu masing-masing orang akan ngebully orang yang baru saja jalan-jalan ke suatu cagar alam, sebut saja pulau sempu.. atau kita sedang bersedih dengan situasi Gunung Semeru yang semakin bau dan sangat tidak indah dipandang mata dengan sampah yang menumpuk di pojok Ranu Kumbolo.. atau mungkin kita juga salah satu yang berteriak paling keras terhadap penambangan freeport di Papua.. atau kita adalah orang yang berada di garis depan melawan wisatawan yang berkunjung ke Kiluan, entah dengan alasan lumba-lumba akan terbiasa mendengar suara mesin kapal yang nantinya akan merubah pola hidup lumba-lumba itu atau apalah itu..
 
tapi pernahkah kita mencoba berfikir mejadi warga sekitar? 
atau mungkin banyak yang belum tahu apa yang dilakukan penambang belerang di Kawah Ijen.. bagi yang pernah dan tahu apa yang dilakukan penambang-penambang ini, mungkin akan berfikir ulang untuk menulis artikel tentang eksploitasi alam.. bahkan gue sendiri melupakan apa yang gue lihat 2 tahun lalu apa yang penambang lakukan di kawah itu.. dan dengan lantang dan bangganya karena telah menjadi bagian dari agen perubahan cinta lingkungan..
 

seperti yang orang-orang sampaikan, bencana datang seiringan dengan apa yang telah dilakukan manusia akan alam itu.. tapi mari kita refleksikan kembali, apa definisi bencana itu sendiri? sesuatu yang merugikan manusia? manusia yang mana? manusia siapa? 
 
ketika kita menyebut lumba-lumba akan berubah pola hidupnya karena banyaknya wisatawan yang datang ke rumahnya, kemudian manusia-manusia ini khawatir nantinya tidak akan bisa melihat lumba-lumba itu lagi karena perubahan alam..
atau kita yang ngebully orang di twitter karena ada sebuah foto bunga edelweis di meja kantornya.. atau hanya karena foto seseorang memegang karang ketika sedang menyelam, lalu semua orang kesal dengan ulahnya karena karang akan mati karena kandungan asam kulit manusia, kemudian karang-karang yang indah itu pun akan mati, dan kita menyebut wisatawan itu mengeksploitasi alam dan tidak bertanggung jawab dengan perjalanannya sendiri.. suatu waktu manusia ini akan menyebut inilah bencana alam karena karang-karang tak lagi indah karena kelakuan manusia itu sendiri..
 
kemudian mari kita membayangkan:
bagaimana bila perjuangan membuat alam ini tetap terjaga ternyata berjalan dengan mulus? manusia dibatasi untuk datang ke cagar alam, manusia tidak lagi dibolehkan menyelam karena khawatir tidak semua orang bisa menepati untuk tidak memegang karang, dan manusia dibatasi naik gunung..
pernahkah kita memikirkan bagaimana nasib pemilik warung di Ranu Pane bila kemudian sepi? ojek tak lagi seramai sekarang, pemilik kapal di Kliuan tak lagi makan nasi setiap harinya karena sepinya wisatawan, tak ada lagi orang yang menyewa rumah Pak Kholiq di Pantai Sendang Biru, penambang belerang di Gunung Ijen banyak yang menganggur..
masyarakat lokal di PHK masal oleh ulah kita sendiri..

dan pada akhirnya kita menyebut ini bencana..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *