Da Cau dan Taman Kota Hoo Chi Minh

“Carilah supir taksi yang berdasi, karena hanya supir berdasi yang menggunakan argo.” Itulah petuah yang saya peroleh dari internet sehari sebelum berangkat sendirian ke negeri orang. Sekitar jam 9 malam saya tiba di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam sekaligus yang paling ramai di negara ini.

IMG_1001

Menyusuri kota yang asing sudah menjadi kebiasaan, bahkan rutinitas, tetapi berkunjung ke negeri orang adalah yang pertama bagi saya. Keluar pintu bandara saya langsung dikerubungi puluhan orang yang menawarkan jasa transportasi. “Jangan panik, bersikaplah wajar dan perlihatkan bahwa kau bukan orang asing di sini,” ucap saya dalam hati. Ketika saya berjalan ke ujung bandara, masih ada beberapa orang yang mengikuti dari belakang, mereka gigih merayu menawarkan jasa taksi. Oke, saya putuskan untuk menggunakan jasa salah satu supir itu. Seketika saya sudah berada dalam taksi. Beberapa saat setelah keluar bandara saya sadar–supir taksi ini tak berdasi. “Dem! Hari pertama udah ketipu taksi tembak,” batin saya.

Meskipun menanggung sejarah kelam masa peperangan panjang pasukan Vietkong yang pro-kemerdekaan melawan berbagai kekuatan asing, Ho Chi Minh City, yang dahulu bernama Saigon, telah berkembang menjadi sebuah kota yang maju. Sektor pariwisata yang dikelola dengan apik mampu memanjakan turis yang menjelajah dan berbelanja di kota ini. Museum-museum dan tempat bersejarah berkumpul jadi satu, begitu juga dengan pusat perbelanjaan. Turis tidak perlu menyewa kendaraan untuk sekedar mengenal negara ini sebab semuanya sudah berada dalam jangkauan kaki.

IMG_1002

Ho Chi Minh sendiri adalah nama seorang tokoh revolusioner dan negarawan Vietnam yang menjadi perdana menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954-1969). Kota Saigon yang dulunya merupakan ibukota Vietnam diganti namanya menjadi kota Ho Chi Minh untuk mengenang jasanya.

Berada di pusat kota, Pham Ngu Lao Street adalah tujuan saya mencari penginapan. Sebuah perkampungan dengan ratusan penginapan berharga miring berada di sini, cafe dan bar berjejer di sepanjang jalanan dengan musik techno yang menggelegar. Suasananya persis seperti Jl. Sosrowijayan di kawasan Malioboro.

Malam baru saja dimulai, ratusan turis sedang menghabiskan malamnya di jalanan ini, begitu juga dengan masyarakat lokal. Saya yang baru saja terbangun dari tidur panjang selama berada di pesawat tentu tak bisa melewatkan malam hanya dengan tiduran di kamar sewaan seharga 7 USD ini, apalagi di luar terdengar jelas raungan klakson dan musik khas dugem.

Tak jauh dari penginapan ada sebuah taman kota yang sangat ramai. Perhatian saya langsung tertuju pada sekelompok pemuda yang sedang asyik melakukan permainan seperti sepak takraw. Da Cau, begitu orang-orang sini menyebutnya. Sebuah olahraga yang sekilas seperti bulu tangkis yang digabungkan dengan sepak takraw.

Da Cau merupakan permainan tradisional Asia di mana pemain berusaha menjaga agar shuttlecock (bulu) tidak menyentuh tanah dengan menggunakan bagian tubuh selain tangan. Sama seperti bulu tangkis dan sepak takraw, Da Cau biasa dimainkan di lapangan berukuran 6×11 meter dengan tinggi net 1,6 meter untuk laki-laki dan 1,5 untuk perempuan. Bedanya dari bulu tangkis, kepala shuttlecock tidak berbentuk bulat, melainkan berupa kepingan logam yang diberi sedikit bulu. Da Cau berarti ‘tendangan shuttlecock.’

Bagi saya yang baru pertama kali melihat, saya menyebut permainan ini seni. Menggunakan teknik menendang dari belakang seperti kalajengking adalah hal biasa bagi pemuda-pemuda ini. Kepala shuttlecock yang seukuran uang logam ini mampu mereka mainkan secara cantik. Bak sudah tahu betul shuttlecock akan jatuh ke mana dan kapan saat yang tepat untuk menendang dari belakang.

Bagaimanapun, riwayat olahraga ini sudah terbilang panjang. Da Cau telah dimainkan sejak era Dinasti Han (206 SM – 220 M)–di Tiongkok sendiri olahraga ini populer sebagai Jianzi–dan sangat populer selama periode Enam Dinasti, Dinasti Sui, dan Dinasti Tang, kemudian sempat berevolusi menjadi latihan militer. Da Cau mulai merambah Eropa pada tahun 1936 ketika seorang atlet Tiongkok dari Provinsi Jiangsu mendemonstrasikan permainan ini di depan penonton Olimpiade Berlin. Di Vietnam sendiri, meskipun disebut-sebut akar Da Cau sudah tampak pada abad ke-5 SM, titik balik mulai dialami Da Cau pada periode 1950-1960 dan mencapai puncaknya pada 1975 ketika seorang tokoh, Dr. Vien, mengorganisir tim dan memfasilitasi produksi shuttlecock dengan harga terjangkau. Dr. Vien sadar bahwa olahraga adalah kebutuhan universal, setiap orang berhak mendapatkan akses tak terkecuali anak-anak.

Melihat beberapa turis asing ikut bermain, saya menjadi tertarik bergabung dan mencoba permainan ini. Semula saya yang senang bermain bola ini mengira permainan juggling semacam ini tidaklah akan sulit. Nyatanya tidak semudah yang kita bayangkan. Sekedar untuk menjaga shuttlecock terbang sesuai keinginan kita saja sudah sulit, apalagi menentukan timing untuk menendang dari belakang dengan gaya kalajengking itu. Untuk menjaga harga diri, akhirnya saya undur diri dalam beberapa tendangan saja.

Permainan yang sangat unik ini ternyata tidak hanya menarik perhatian saya, sebagian turis yang lewat di taman kota ini berhenti dan kemudian memperhatikan. Sebagian masyarakat yang menyadari ketertarikan para turis menawarkan shuttlecock sebagai souvenir. Untuk 1 buah shuttlecock dihargai 1 USD. (‘Hubungan’ sejarah Vietnam yang panjang dengan Amerika Serikat–juga pariwisata yang semakin semarak–membuat masayarakat terbiasa menggunakan dollar dalam kehidupan sehari-hari.) Saya menyebutnya win-win solution; turis asing mendapatkan pengalaman yang unik, masyarakat lokal mendapat untung dari hasil penjualan souvenir.

Gerimis malam itu membubarkan semua orang di taman kota, tetapi suara klakson motor terus berkumandang sepanjang perjalanan pulang saya ke penginapan. Ya, sebagian besar pejalan kaki di sini mesti terus melihat jalan karena bukan pengendara motor yang mengurangi kecepatan mereka apabila ada pejalan kaki yang menyeberang jalan, tapi pejalan kakilah yang harus berhati-hati. Itulah alasan kenapa suara klakson tak henti-hentinya mereka nyalakan. Bagi saya ini suatu kebisingan yang sudah tak asing lagi sebab juga lazim ditemukan di ibukota negara saya: Jakarta.

IMG_1104

3 thoughts on “Da Cau dan Taman Kota Hoo Chi Minh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *