Fenomena BPC Jogja

sambil nungguin jam 11 (karena katanya bakal ada promo gratis terbang) , gue nyempetin buat nulis sedikit keluh kesah gua; tapi ini bukan keluh kesah tentang cinta-cintaan ya; 
keluh kesah gue masih sekitar tentang dunia travelling.. tapi jangan salah sangka juga kalo blog gua ini juga bukan blog tentang dunia jalan-jalan.. hanya aja gue lebih banyak mikirin dunia jalan-jalan daripada dunia cinta-cintaan.. 
sejujurnya apa yang gue tulis di twitter ataupun di sosial media apa pun, semua nya adalah pencitraan, bukan diri gua yang sesungguhnya..
————
oke, daripada malah semakin lebar, gue mau cerita tentang kondisi BPC atau backpacker community saat ini, tapi sebelumnya gue mau ngajak kalian buat flesbek dulu BPC tahun-tahun sebelumnya…
“nama saya deli, ID kaskus delicious.. saya pengen join di bpc karena saya suka jalan.. sebelumnya saya jalan sendiri atau single fighter, tapi akhirnya saya sadar melakukan perjalanan tidak hanya menuju destinasi yang kita rencanakan, tapi proses dalam perjalanan adalah bagian tak terpisahkan dari semua itu.. sehingga saya pengen gabung ke bpc biar bisa dapet ilmu dan pengalaman baru bersama pecinta pejalan yang lain”

begitulah kira-kira gua join di BPC, saat itu BPC mempunyai banyak member, komunitas kaskus regional yogyakarta yang besar, jadwal trip yang padat, jadwal kumpul yang sering, dan yang saya suka saat itu adalah tidak ada satu pun member yang pamer dengan pengalaman ataupun gear nya (saat itu)..
dengan semangatnya gue kumpul sekedar nongkrong dengan mereka, bahkan merelakan beberapa kegiatan yang “lebih penting” ketimbang sekedar kumpul ngopi bareng.. ya, ini gue lakukan karena gue menemukan rumah kedua .. 
travelling dengan mereka sungguh mengasikkan, karena mungkin sebagian besar membernya adalah mahasiswa, seangkatan atau gak jauh beda umurnya dengan gue, jadi ya nyambung-nyambung aja bercandaannya haha..
tapi juga perlu diingat, jogja adalah kota pelajar, sebagian besar member bpc jogja adalah mahasiswa perantauan, yang saat lulus mereka akan pulang kampung ke kota asal mereka atau sekedar mencari kerja di kota yang lain..
menurut gue, kesalahannya disini, bpc gak punya cara untuk meremajakan membernya, sehingga begitu sebagian besar membernya lulus kuliah, habis deh orang-orangnya.. yang tersisa adalah orang-orang yang belum lulus kuliah dan beberapa yang emang asli jogja, kayak gue…
saat ini, bpc telah berkembang pesat, hingga beberapa provinsi sudah bisa berjalan sendiri tanpa adanya koordinasi dari bpc jogja yang dari sejarahnya bpc jogja adalah awal mula.. bahkan di jabodetabek sendiri, bpc telah menghasilkan member yang aktif begitu banyaknya, sampe-sampe gue sendiri sulit menghapal orang-orangnya…
tapi miris, melihat kota lain berkembang dengan pesatnya, justru bpc jogja sendiri mulai kehilangan taji nya.. seolah-olah bpc jogja tidak pernah melakukan kegiatan yang bombastis yang dulu pernah dilakukan.. yap, gue akui, itu semua karena member bpc jogja yang kian menyusut, dan kalo gue hitung, member aktif di bpc jogja hanya sekitar 5 orang, jauh dari bpc jabodetabek yang ratusan…
menurut beberapa orang, termasuk gue, menyusutnya member bpc jogja ada beberapa hal:
1. tidak adanya regenerasi member bpc
2. kurangnya koordinasi dari koordinator bpc jogja
3. ulah beberapa orang yang tidak suka dengan member baru sehinga member baru cenderung batal gabung karena takut adanya senioritas dari orang-orang tersebut
oke, gak masalah yang aktif cuma sedikit, kita tetep jalan dan masih melakukan koordinasi dengan bpc-bpc kota lain.. namun, muncul fenomena baru di komunitas ini, yaitu beberapa orang menjual tempat wisata kepada member-member yang lain.. berubah arah lah visi mereka, yang awalnya bpc dibentuk untuk share dan diskusi tentang dunia jalan-jalan, menjadi sebuah wadah tour & travel.. dan, orang-orang bpc jogja mulai gerah, termasuk Topik (sang pendiri bpc)..

beberapa kali kami berdiskusi tentang fenomena yang muncul di komunitas, dan kami semua mulai risih ketika melihat di sosial media facebook, beberapa orang menjual “pengalamannya” ke member yang belum pernah mengunjungi tempat wisata tertentu..
beberapa kali topik bilang sama gue kalo “bpc jogja biarkan seperti ini, menunggu keajaiban untuk kembali besar, karena sebagian besar orang-orangnya sudah melenceng dari visi nya bpc”
saat itu gue cuma mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan topik, dan juga sebenernya saat itu gue setuju.. tapi saat ini gue sadar satu hal,
“bahwa kenangan indah tidak bisa dibiarkan begitu saja lenyap hanya karena “beberapa” orang yang melenceng dan merusak hubungan satu sama lain”
saat ini yang bisa gue lakukan adalah mencoba membangkitkan kembali bpc jogja yang seolah-olah sedang mati suri, untuk kembali besar, dikenal banyak orang.. biarpun orang mengatakan gue ini haus atau semacamnya, menurut gue, kenangan indah tidak akan kalah dengan halangan kecil semacam ini.. justru seharusnya ini semua menjadi pembelajaran yang berharga untuk semakin menguatkan kita…
saat ini semangat gue lagi menggebu-gebu nya, semoga semangat ini terus ada, menjadi energi positif bagi semua orang untuk membangkitkan kembali bpc jogja yang semakin memudar.. dan tentu saja, gue gak akan lupa, bahwa backpacker adalah bagian dari travelling!! anti primordialisme bray!!
salam ransel™

One thought on “Fenomena BPC Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *