Sore di Dieng. Sebuah penginapan tua berlantai dua, berdiri kokoh di sudut pertigaan. Bercat setengah merah dan putih dengan balkon yang selalu terisi oleh turis-turis asing. Menurut statistik, 50% penghuninya sedang tidur, 30% sedang membaca buku, 10% lainnya makan, dan 10% sisanya meninggal dunia. Oke, ini bohong! Statistik adalah jelmaan kebohongan nomer tiga, menurut Benjamin Disraeli. Katanya ada tiga tipe bohong: kebohongan, kebohongan jahat, dan statistik.

Seorang pemuda keluar dari dalam penginapan tersebut. Tinggi ideal untuk menjadi seorang model. Rambut cepak disisir ke atas, persis seperti Fernando Torres. Penggemar bola seharusnya bisa membayangkan. Kulit putih. Memakai celana pendek dan sepatu khas pendaki gunung. Jaket tebal berwarna biru tua dengan tulisan “Columbia”. Sebuah merek yang siapapun akan tahu bahwa dia memang pendaki.

Namanya Gara. Kulit putihnya yang membuat orang lain sering beranggapan bahwa dia salah satu turis asing yang sedang menginap di Losmen Bu Djono. Sarung tangan yang selalu dipakainya pun tak pernah lepas dari kamera DSLR. Sesekali kamera dipakainya untuk memotret jalanan, entah subjek apa yang dicari. Matanya seakan tak pernah lepas untuk menanti momen-momen langka sepanjang jalan menuju Candi Arjuna, sebuah candi yang tak jauh dari penginapan.

Sore yang cerah memang waktu yang langka untuk dinikmati. Gara berjalan sangat pelan. Benar-benar mengamati setiap detil tingkah laku masyarakat yang ada di pinggir jalan. Saking pelannya, dia lupa untuk mencari sunset di kompleks candi. Tapi tak apa, momen perilaku masyarakat ini pun langka dijumpai di kota-kota besar. Sebagian dari mereka berkumpul di satu sudut warung dengan sarung dan kupluk. Duduk di depan perapian yang mereka buat untuk menghangatkan badan. Kalau sedang tidak ada pesanan, pemilik warung mengambil stok kayu yang ada di gudang, kemudian bergabung duduk di depan perapian. Selalu begitu. Sampai langit gelap dan akhirnya mereka mengantuk. Sebuah pola yang terbentuk dari zaman nenek moyang.

Gara yang sadar ini adalah momen yang jarang ia temui di kota pun akhirnya menghentikan langkahnya. Tapi sepertinya hanya dia yang tertarik dengan hal semacam ini. Puluhan orang lain masih melanjutkan langkah kakinya untuk mengejar matahari terbenam. Beberapa dengan dandanan yang sama. Celana pendek. Seakan lupa bahwa suhu di sana dibawah 10 derajat celcius.

Gara hanya bisa terpana, sesekali mengarahkan lensanya ke arah mereka. Memandangi tingkah laku masyarakat sekitar yang sama-sama menghangatkan badan. Mengambil stok kayu, kemudian mempertahankan api agar terus menyala. Tidak jauh dengan yang dia lakukan 2 hari lalu di Gunung Prau. Gunung yang tak jauh dari Desa Dieng. Benar-benar persis. Yang membedakan mungkin hanya tempat dan prosesnya.

Mendaki gunung hanya untuk mencari kehangatan bersama dengan teman seperjalanan. Makan bersama, bercanda, kemudian mengantuk, lalu tidur. Gara hanya bisa tersenyum, kemudian mengingat apa yang sudah dia lakukan selama 2 hari yang lalu di gunung. Mencoba kembali mengingat apa yang dia cari di perjalanan panjang untuk sampai ke gunung ini. Gara tahu jawabannya, tapi ia tak ingin tahu. Sebab kenyataan ini bukanlah yang dia mau. Diluar itu, Gara mencoba menikmatinya. Ia selalu belajar untuk selalu menikmati perjalanannya. Mengabaikan kegelisahan yang selama perjalanan akan merusak perjalanan itu sendiri. Biarlah itu ia pikirkan sepulang dari sana.

BERSAMBUNG..

 

 

Teks oleh ridhomukti