RCM02070

Setelah Jayakarta direbut oleh VOC, kota menjadi porak poranda. Perekonomian lesu, keadaan kota sangat kacau. Tidak ada yang bisa membangun peradaban suatu kota tanpa perdagangan yang hidup subur di dalamnya. Jan Pieters zoon Coen –Gubernur VOC pertama– yang sebelumnya mengenal Souw Beng Kong di Banten karena cerdas, ulet, dan bervisi luas mengundang warga Tionghoa untuk hijrah di Batavia. Sebagai pemukim baru, rombongan Souw Beng Kong dengan cepat memonopoli perdangan dan berhasil mempercepat pembangunan kota Batavia.

Pada tahun 1700-an, orang-orang Tionghoa kembali berdatangan dan disambut oleh Belanda. Perahu-perahu Tiongkok disambut bak pahlawan di Sunda Kelapa dengan membawa sutera, teh, dan sebagainya. Tentu di dalam kapal juga mengangkut lebih banyak orang Tionghoa yang ingin mengadu nasib di Batavia.

Penerimaan orang Belanda tak berlangsung lama, ketika semakin banyaknya orang Tionghoa yang tinggal di Kota, justru menimbulkan keresahan. Meningkatnya pengangguran dan kriminalitas membuat pemerintah Belanda mulai membatasi penduduk Tionghoa. Sebagian dipulangkan ke negaranya, sebagian lagi bertahan di Batavia dengan aturan yang sangat ketat.

Tahun 1740, Gubernur Jenderal Valckeneir mengasingkan orang-orang Tionghoa yang dicurigai mengganggu ketentraman ke perkebunan milik VOC di Sri Lanka. Namun, sikap Valckeneir ini dimanfaatkan oleh pejabat-pejabat Kompeni untuk memeras orang Tionghoa.

Banyak orang Tionghoa yang akhirnya kabur dan memilih bergabung dengan pasukan pemberontak. Keadaan saat itu menjadi sangat genting. Kebakaran yang terjadi bahkan menjadi aba-aba mulainya pertarungan Belanda dengan Tionghoa. 5.000 – 10.000 warga Tionghoa mati dalam pertempuran selama seminggu tersebut, yang kemudian dinamakan sebagai Tragedi Pembantaian Angke. Ratusan rumah menjadi abu. Tahanan dibantai di dalam penjara.

Ketika situasi mulai dapat diredam, Jenderal Valckeneir kembali mengeluarkan perintah. Orang Tionghoa dilarang tinggal di dalam Benteng Kota (sekitar kota tua), dan dikumpulkan menjadi satu di daerah Glodok, yang kini telah menjadi kawasan pecinan terbesar di Jakarta.

RCM02010

Bangunan-bangunan khas Tiongkok tak lagi banyak. Papan nama berukuran besar dengan huruf kanji pun hampir tak ada di komplek ini. Masyarakat Tiongkok di Glodok telah berubah mengikuti jaman yang juga berubah.

“Dah pak, di sini aja.” teriak saya kepada supir Gojek. ITC Glodok adalah tempat yang saya dan Rendy tandai untuk memulai berburu foto di sekitar kawasan pecinan Glodok. Di pertigaan yang selalu ramai itu kami berjalan kaki menuju ke arah barat. Tak lama, sebotol minuman kami beli untuk bekal selama menjelajah Pasar Petak Sembilan. Konon, jaman dulu di sini terdapat 9 petak rumah dan kedai kopi yang digunakan sebagai tempat nongkrong. Dari situ kemudian banyak orang yang mengatakan ‘mau ngopi di petak 9′.

Penjaja sayur berjejer di pinggir jalan. Menyambut kami di pintu masuk gang dengan sebuah parit kecil di pinggirnya. Kali kecil ini mereka sebut sebagai Kali Mati. “Mulai dari sini aja, Ren. Udah banyak objeknya.” seru saya.

RCM02005

RCM02031

Ornamen khas China mulai menghiasi pasar ini. Lampion-lampion berwarna merah tergantung di antara ruko. Pakaian-pakaian China menjamur di sini. Bangunan berwarna merah juga melimpah. Di gang depan, saya langsung disuguhi jajanan sayur, kepiting, dan obat-obat tradisional. Semakin ke dalam, pilihan dagangan semakin beragam. Dari mulai ikan, pakaian, CD player, bahkan sampai kodok dijual di pasar ini.

Pasar Petak Sembilan tak ada bedanya dengan pasar-pasar tradisional lain. Hanya jajanan-jajanan khas Tiongkok yang berbeda. Teripang, kerupuk perut ikan, makanan khas China masih dijual di tempat ini. Beberapa apotek khas Tiongkok masih bertahan, lengkap dengan tabibnya, meski tak seramai sebelum terjadinya penggusuran tahun 2005.

Motor-motor berlalu-lalang di jalanan sempit, berebut dengan gerobak-gerobak pembawa dagangan. Di kiri jalan, ruko-ruko bersembunyi di balik tenda pedangan lain. Di bagian lain sisi kanan jalan, motor-motor terparkir di depan ruko. Beberapa ruko yang telah tutup digunakan untuk bermain catur. Mereka tampak mengacuhkan saya yang sibuk memperhatikan tiap langkah pionnya.

RCM02027

RCM02042

Pasar tampak mulai sepi. Ibu-ibu membawa keranjang belanjaan menyusuri pasar. Para pedangan memanfaatkan waktunya dengan bermain game di handphone. Sisanya memilih bersantai menunggu gelap dengan secangkir kopi dan rokok. Suasana sore itu tampak harmonis.

Di ujung pasar, tepatnya di Jalan Kemenangan, tampak sebuah Klenteng tua Jin De Yuan, atau bagi penduduk sekitar masih menyebutnya sebagai Klenteng Kim Tek le. Dibangun oleh Letnan Tionghoa Guo Xun Guan pada tahun 1650 untuk menghormati Dewi Kwan Im. Klenteng ini berdiri jauh sebelum Belanda berhasil menguasai Batavia, meskipun pada tahun 1740 saat terjadi kerusuhan sempat dibakar oleh Kompeni.

Terdapat 3 pintu di Klenteng ini. Akses terdekat dengan pasar berukuran lebih pendek. Penjual bunga berjejer di samping pintu. 2 peringatan awas kepala tertulis di bagian atasnya, sisanya diplesetin menjadi awas kepala botak.

Sebuah lorong gelap tampak tak rapi ketika mulai memasuki klenteng. Mangkok besar telah terisi penuh oleh abu, di ujungnya tertancap dupa. Langsung belok ke kanan, ruangan besar nan gelap sebagai pusatnya. Lilin-lilin berukuran raksasa berjejer membentuk gang kecil menuju ke altar utama. Lukisan Dewi Kwan Im bersebelahan dengan Dewa Kwang Kong (dewa perang) menjadi sosok yang paling agung.

RCM02056

RCM02076

Kembali keluar, 2 klenteng berjejer tampak lebih ramai. Sepatu-sepatu pengunjung terparkir diluarnya. Namun, saya dan Rendy tidak begitu tertarik untuk menengok lebih dalam. Menuju ke pintu selatan, terdapat pintu kedua dan pintu utama menuju klenteng dengan gapuranya yang dihiasi dengan ornamen naga. Halaman luar klenteng ini lebih luas, ibu-ibu dan anak-anak tampak menikmati cemilan dengan beralaskan tikar, dan kucing-kucing liar menemani waktu santai mereka.

“Mas, ngapain foto-foto saya? Saya bukan gembel, gak usah difoto.” teriak salah satu ibu ketika mengetahui saya mencuri momen mereka tengah asik duduk di halaman. Sembari meminta maaf, saya dan Rendy lekas keluar klenteng, dan bersama dengan adzan magrib, berakhirlah liburan sore kami hari itu.