Menengok Perbatasan di Timur Indonesia

Sarang-sarang semut berukuran raksasa setinggi 2 meter berdiri di sepanjang jalan di dalam Taman Nasional Wasur, menuju titik nol kilometer, Merauke. Bentuknya persis seperti nuget; cokelat dan bergerigi, hanya bila sarang semut ini beneran nuget, mungkin kita bisa mati kekenyangan saking raksasanya. Bandung Bondowoso yang membangun Candi Prambanan bisa jadi kalah oleh semut-semut ini dalam hal skala tubuh dan bentuk. Kalah telak.

Jalanan menuju titik nol km ini tampak baru. Persis seperti di berita-berita bagaimana pemerintah membangun jalan raya untuk warga di pinggiran. Beberapa masih dalam tahap pengerjaan, sehingga mobil yang kami tumpangi harus melipir ke pinggir jalan untuk menghindari lubang galian.

Dari kota Merauke ke titik nol km ini, mobil kami harus melewati sekitar 3 jam perjalanan. Jauh lebih hemat jika dibandingkan 3 tahun lalu yang harus ditempuh dalam waktu 5-8 jam. Jika musim hujan, bisa jadi perlu seharian untuk menuju ujung Indonesia ini. Mungkin faktor ini yang membuat titik nol km tidak ramai dikunjungi orang. Bukan karena tidak populer, tapi akses yang terlalu sulit untuk dilalui.

 

“Gimana mereka ya yang pada mau ke Boven Digoel?” tanya mbak Tati kepada kami.

“Mungkin besok baru nyampe, mbak” jawabku iseng.

“Engga kok, itu cuma kurang lebih 14 jam. Kalau dulu yaa harus nginep di jalan. Itu yang duduk di luar harganya 700rb, tapi kalau di dalem harganya bisa 1 jutaan.” timpa pak supir yang mendengar perbicangan kami saat itu sambil menunjuk mobil double cabin yang sedang berhenti di pinggir jalan.

Kami yang mendengarnya langsung melongo melihat mahalnya tiket travel di sana. Ditambah dengan kondisi jalanan yang sangat panas. Dalam hati saya berkata, “mungkin itu yang bikin orang di papua berkulit gelap. Karena cuaca yang sangat panas”.

 

PAPUA DAN SOEKARNO

Tepat tengah hari kami tiba di ujung timur Indonesia, kilometer nol. Perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Bangunan-bangunan reyot bertuliskan “NKRI harga mati!” menjadi saksi bagian dari Indonesia, dengan segala keterbatasannya.

“Hanya sebatas daun kelor”, begitulah Bung Karno memandang Papua bila dibandingkan dengan kepulauan lain di Indonesia. “Akan tetapi, Irian Barat adalah sebagian tubuh kami.” lanjutnya. Klaim Soekarno bukannya tanpa dasar, dalam perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) akhir tahun 1949, pemerintah Belanda menolak menyerahkan wilayah Irian barat, karena secara etnis dan budaya, rakyat Irian Barat berbeda dari Indonesia. Sehingga tak ada alasan bagi Indonesia mengklaim Irian Barat.

“Mengapa tidak?” tanya Sukarno. “Apakah mereka (rakyat Papua) lebih mirip dengan orang Belanda yang berpipi merah, berambut jagung dan dengan muka berbintik-bintik itu?”

Papua adalah daerah yang sangat terbelakang. Alamnya berupa hutan lebat dengan gunung-gunung yang tinggi dan rawa-rawa yang sangat padat. “Lha kalau Irian Barat itu ndak ada apa-apa, kok sampeyan (Belanda) nongkrong di Irian Barat itu buat apa?” tanya Soekarno yang mulai menyadari kekayaan alam Papua saat itu. Ketika itu, para peneliti menyadari keberadaan uranium yang bernilai sangat tinggi di era abad atom.

Pada awalnya, Irian Barat merupakan wilayah jajahan Belanda dan bagian dari kesatuan dari pulau-pulau lain di Indonesia dalam Hindia Belanda. Namun, ketika penyerahan kemerdekaan kepada Indonesia, Irian Barat belum disertakan di dalamnya. Hal ini menyebabkan kepemilikan wilayah itu menjadi permasalahan antara Indonesia dan Belanda, sehingga munculah upaya pembebasan Irian Barat dari tahun 1945-1963. Baru setelah tahun 1963, tepat 18 tahun Indonesia merdeka, atau 15 tahun setelah perjanjian KMB, atau tepat pada tanggal 1 Mei 1963, Belanda akhirnya menyerah dan meningalkan Indonesia secara teritorial.

Jauh setelah itu, Merauke telah menjadi kota mati. Tidak ada warisan Belanda yang bisa dipakai sebagai modal untuk membangun daerah itu. Hutan lebat dengan jalanan selebar 2 meter dengan teror pembunuhan terjadi dimana-mana menyebabkan orang-orang takut untuk membangun peradaban di sekitar ini. Maka, didatangkanlah penduduk Jawa ke ujung timur Indonesia ini dengan janji-janji lahan dan mata pencaharian yang jelas. Yang kemudian saat ini menjadikan Merauke kota Jawa yang berada di Papua. Warung-warung bakso dan pecel lele khas Jawa Timur menjamur di sepanjang jalan. Cukur rambut asgar (Asli Garut) juga mendominasi ruko-ruko di dalam kota.

“Jangan dikasih, mas. Mereka itu buat beli lem atau rokok. Masih kecil kok ngerokok”, bisik ibu penjual bakso di warung yang kami singgahi saat beberapa anak kecil berkulit lebih gelap menyodorkan tangannya sambil menunjuk rokok yang saya genggam. Namun, anak-anak kecil ini justru yang menarik perhatian saya, mungkin mereka adalah penduduk asli Papua yang pertama saya temui setelah setelah sekian hari saya menginjakkan kaki di Merauke. Bisa jadi, sekecil itulah perbandingan penduduk Papua asli dibanding keturunan Jawa yang tinggal di sana.

 

SEBUAH PERBATASAN

Asrama tentara kokoh berdiri di tengah sabana yang kering. Di depannya terdapat pos penjaga yang siap mencegat pendatang yang hendak berwisata di titik nol kilometer. Seperti sudah terbiasa, supir kami dengan sigap turun dari mobil untuk menyerahkan identitasnya sebagai jaminan.

Tak jauh, sebuah gapura dengan tulisan “Goodbye and see you again anotherday” sebagai pintu keluar dari batas wilayah teritori Indonesia dengan Papua Nugini. Namun, pengunjung masih dapat menginjakkan kaki lebih jauh lagi ke dalam. Mereka menyebutnya sebagai “area netral”.

Tak semegah di titik nol km di Sabang, bangunan-bangunan di sini masih tampak seperti peninggalan era penjajahan. Tua dengan cat yang pudar, meskipun jauh lebih bersih dari sampah. Sebuah tugu kecil setinggi 1 meter bertuliskan koordinat, yang di depannya terdapat beberapa papan dengan perintah “Pengunjung/wisatawan hanya sampai di sini” lengkap dengan penjaga perbatasan yang siap menegur kami bila melewatinya.

Sedikit ragu, namun penasaran. Mbak Tati memulai menerobos batas, tapi beberapa penjaga hanya memperhatikan. Saya ikuti dari belakang, dan nampak biasa-biasa saja. Tak ada teguran dari siapapun yang berada di sana. “Oke, kayaknya masih boleh maju-maju dikit”, pikirku. Bendera Papua Nugini berukuran kecil dengan kotak sumbangan dibiarkan berdiri di sekitar tugu perbatasan, lalu seorang laki-laki tua berseragam militer asing mendekati kami. “Minta uang sumbangan atau nyuruh kami mundur”, sambungku dalam hati.

“Kalau mau foto-foto bisa sampai di depan sana boleh. Tapi gak boleh ngelewatin lorong itu ya”, tegur laki-laki tersebut sambil menujuk jalanan lurus di depan kami. “Kalau di sini masih area netral, gak papa”, ujarnya melengkapi.

Setelah beberapa saat kami mengambil gambar di area netral tersebut, seorang pria dari ujung jauh jalan Papua Nugini sedang bersepeda menuju kami. Kemudian menuntunnya begitu tiba di perbatasan. Lalu menyusul pesepeda-pesepeda lain di belakangnya. Setelah sekian lama, mereka kembali ke negaranya membawa tentengan logistik yang mereka beli dari Indonesia.

“Itu mereka beli bahan makanan di depan sana”, sahut laki-laki berseragam militer tadi kepada kami.

“Bila harus menggunakan paspor dan mengecapnya setiap melintasi perbatasan, mungkin mereka harus memperpanjang paspor setiap seminggu sekali”, pikirku dalam hati. Walaupun penjaga perbatasan tersebut ramah kepada kami, tapi saya lebih memilih berhati-hati dalam berucap, karena saya tak mengenalnya, begitu juga dengannya tak mengenal saya. Lebih baik diam daripada harus berurusan dengan sesuatu yang tak penting.

Sekitar satu jam kami berkeliling, kami kembali ke mobil. Tidak banyak objek yang bisa dinikmati di perbatasan ini, karena memang perbatasan bukanlah tempat wisata sesungguhnya, melainkan sebagai simbol dan tanda tentang kedaulatan suatu wilayah.

Menjelang sore, kami kembali ke kota Merauke. Menghindari berkendara di malam hari melewati jalanan Merauke – Boven Digoel yang sepi. Lalu momen wisata sesungguhnya hadir; di tengah perjalanan pulang, matahari telah tepat di depan kami, pepohonan di kanan dan kiri sebagai bingkainya, langit berubah menjadi oranye dengan lagu Risalah Hati milik Dewa 19 yang tengah menyala.

 

5 thoughts on “Menengok Perbatasan di Timur Indonesia

  1. Sarang musamus itu kalau dipikir-pikir mirip kayak gambar-gambar di komik dragon ball ya? hahaha..

    Nicely written, Del. Akhirnya update lagi ya.. aku juga akhirnya update lagi setelah jutaan tahun. hahaha

Leave a Reply to morishige Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *