Bila kita memahami dengan seksama, sesungguhnya traveling itu sangat lucu. Banyak orang yang menyimpan jatah cuti mereka hanya untuk pergi keluar dari rutinitas serhari-hari, tetapi sadarkah yang mereka lakukan saat akhirnya mereka melakukan perjalanan? Menghabiskan sebagian gaji mereka hanya untuk bersusah-payah mendaki gunung yang dinginnya menusuk tulang, berenang di pantai yang seakan matahari justru lebih dekat sehingga terasa sangat panas dan membakar kulit mereka, mencari tempat untuk tidur saja harus berjalan jauh dari satu pintu losmen ke pintu losmen yang lain agar mendapat harga yang miring.

Jika alasan melakukan traveling adalah untuk keluar dari rutinitas sehari-hari mereka, maka sesungguhnya traveling bukanlah hal yang menyenangkan, justru kalau saya bilang mereka butuh piknik yang sesungguhnya. Piknik yang ada di film drama, yaitu duduk di taman tepi danau dan menghabiskan cemilan yang mereka beli dari supermarket, kemudian setelah matahari terbenam mereka akan kembali ke rumah dan mendapati kamar mereka lagi, tidur dengan nyenyak dalam damai. Tentu saja ada banyak alasan untuk melakukan traveling, yang paling populer adalah mencari jati diri dan berharap menjadi dewasa dari perjalanan.

Saya sendiri tidak bisa menilai setiap keputusan traveling orang lain untuk tujuan apa, dan apakah tujuan mereka tercapai setelahnya, tetapi terlepas dari apapun tujuan mereka tadi, bukankah kejadian-kejadian yang saya sebutkan tadi merupakan hal yang lucu? 😀

Ingat kata-kata Clifton Fadiman “Ketika kamu traveling, perlu diingat bahwa negara asing tidak dirancang untuk membuat anda nyaman, itu dibuat untuk orang asli nyaman.” Memang benar, dan tidak ada yang salah. Bahkan ketika kita liburan ke Bali pun akan merasakan hal yang sama, keadaan sekitar, budaya yang berkembang, dan struktur tata kota tidak seutuhnya dibuat untuk orang asing merasa nyaman hidup dan tinggal disana, melainkan segala sesuatu yang tumbuh di Bali semata-mata untuk penduduk lokal itu sendiri, agar masyarakat lokal bisa mendapatkan uang dari sektor pariwisata, agar perekonomian terus berjalan, dan masyarakat hidup sejahtera. Wisatawan yang menyesuaikan diri. Meskipun secara kasat mata segala fasilitas diperuntukkan untuk wisatawan.

5 tahun lalu pariwisata di indonesia tidak semasif, terstruktur, dan tersistematis seperti sekarang ini. Perkembangan pariwisata di indonesia sangat pesat, bahkan saya sendiri yang tinggal di jogja merasakan perbedaan yang sangat mencolok.

Sebelum 5 tahun yang kebelakang, wisata jogja masih mengandalkan malioboro, kraton, tamansari, parangtritis, candi prambanan, dan baron-kukup-krakal. Tapi seakan tidak puas dengan tempat-tempat tersebut, banyak orang yang mulai mencari hidden paradise yang ada di jogja. Mulai dijajahlah Kabupaten Gunung Kidul. Jeng jeeeng,, pantai-pantai baru, sungai, dan goa mulai diekspose secara masif oleh wisatawan-wisatawan ini melalui facebook, twitter, dan sosial media lain.

Sebenarnya alasan utama bukan karena mereka bosan dengan tempat wisata yang melulu itu-itu saja, karena sampai sekarang pun Jogja tetap menjadi primadona dengan kearifan lokalnya yang nrimo dan tepo seliro, tetapi lebih kepada perkembangan teknologi yang juga sangat pesat. Saat ini setiap orang mempunyai setidaknya 2 akun sosial media dengan pasar yang berbeda. Bayangkan jika 10.000 orang saja berkunjung ke jogja setiap hari, kemudian masing-masing orang tadi mengupload foto dan ceritanya di 2 media sosial milik mereka. Artinya ada 20.000 upload-an setiap harinya tentang jogja, dan tidak menutup kemungkinan ada ratusan ribu atau jutaan orang lain yang melihat upload-an tadi setiap harinya. Sunggung-sungguh sangat masif. Tapi apakah hal tersebut diimbangi oleh kesiapan masyarakat lokal untuk secara tiba-tiba dibanjiri wisatawan dari kota dan negara lain?

Kurang lebih 1 tahun belakangan, masyarakat jogja dan luar jogja tidak sedikit yang mulai mengeluh dengan kemacetan yang terjadi di kota ini, artinya pemerintah daerah pun bahkan tidak siap menampung kunjungan wisatawan yang setiap tahunnya terus bertambah, apalagi masyarakat lokal itu sendiri. Meskipun uang yang mengalir menjadi sangat sangat banyak, tapi apakah hal ini yang disebut responsible traveller dengan pendapatan dari sektor pariwisata yang melimpah, tetapi masyarakat lokal dan luar pun menjadi tidak nyaman dengan gaya hidup yang sekarang?

Sejatinya pengertian responsible traveller bagi saya masih rancu, tidak ada batasan yang secara implisit menjelaskan pengertian tersebut. Sangat subyektif, sehingga tidak bisa kita menyalahkan pihak lain adalah orang yang tidak bertanggung jawab dengan perjalanan mereka. Tetapi tidak bisa juga kita bertindak seenak jidat ketika melakukan traveling dengan dalih kesubyektifan. Seperti halnya Multikulturalisme, tidak bisa kita seutuhnya menjadi seorang yang multikultur, tetapi seyogyanya kita mencapai ke arah sana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“(Agama) seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ahmad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 927)

Usaha mencapai responsible traveller adalah bergaul dengan orang-orang yang insyaallah memperjuangkannya juga. Sehingga tulisan ini saya maksudkan agar bisa diterima menjadi bagian dari Travel Blogger Indonesia sebagai syaratnya.