Bali yang merupakan salah satu tujuan utama wisata di Indonesia memang menjadi Provinsi yang sangat ramai dipenuhi wisatawan dalam dan luar negeri. Tidak sedikit orang yang pernah berkunjung ke Bali dan memutuskan untuk kembali lagi, karena memang di sanalah kita bisa menemukan sisi lain Indonesia dan ditata dengan sedemikian rapinya untuk memanjakan para pendatang.

Saat kedatangan saya beberapa minggu lalu bersama dengan rombongan Kementrian Pariwisata, Uluwatu menjadi salah satu destinasi yang tertera di agenda kami. Sebuah perjalanan panjang setelah rangkaian 16 hari menyusuri Lampung – Semarang – Surabaya – Lombok – Labuan Bajo, sampai pada akhirnya tibalah saya di Bali dan Tari Kecak di Uluwatu menjadi spot pertama setelah kami menginjakkan kaki di Pulau Dewata ini.

Dua bus kami melaju dari daerah Legian, tempat kami menginap. Jalan yang terkenal dengan Serangan Bom Bali ini cukup padat dengan kendaraan-kendaraan pribadi, sesekali bus pariwisata terlihat berhenti di pinggir jalan untuk mengangkut penumpang. Sejarah yang kelam tentang ledakan maha dahsyat yang menewaskan ratusan orang tersebut telah tumbuh dengan sangat pesat. 1 tahun setelah ledakan yang memporak-porandakan 2 cafe di jalan tersebut berangsur kembali normal, menampilkan hiburan-hiburan setiap malamnya untuk menarik wisatawan berkunjung di sepanjang jalan Legian. Para wisatawan tampak telah lupa dengan sejarah yang kelam ini, meskipun dibalik itu semua terdapat duka yang sangat mendalam dari seluruh dunia.

Terdapat sebuah monumen di ujung jalan Legian untuk mengenang tewasnya para turis. Ratusan nama-nama korban tertulis di tembok monumen, bunga-bunga tanda berdukanya wisatawan tergeletak di bawahnya dengan menyan dan dupa menyala untuk mendoakan agar mereka mencapai moksa.

Dua jam menyusuri padatnya kota, segera kami tiba di Uluwatu sesaat sebelum acara Tari Kecak dimulai. Puluhan bus dan elf telah berjejer di tempat parkir mengantarkan penumpangnya masing-masing. Saya yang masih sibuk dengan perlengkapan kamera menyusul Rendy dan Mawski yang sudah lebih dulu turun dari bus menuju sebuah bangunan tak jauh dari tempat parkir. Di sana telah berkumpul puluhan orang yang berebut sehelai kain berwarna ungu untuk dipakai sebagai sarung, syarat para pengunjung memasuki kawasan pura, persis seperti yang ada di Candi Borobudur.

Ratusan orang sudah berada di kawasan Uluwatu sedari tadi, beberapa berjalan keluar seolah puas telah berfoto di sini, sebagian lain tampak sedang duduk bersantai di bahu jalan masuk dengan botol minum dan kamera yang menggantung di lengan mereka. Bagian kanan atau sisi barat jalur masuk menuju arena Tari Kecak adalah sebuah pembatas setinggi 1 meter dengan pemandangan laut lepas, telah dipenuhi dengan pengunjung yang asik mengabadikan matahari yang mulai tenggelam.

Melihat pemandangan laut lepas yang indah membuat saya tertarik untuk turut mengambil gambar. Aktivitas pengunjung yang beranekaragam juga mengundang saya untuk mengeluarkan kamera dari dalam tas, namun teriak Pak Stive; guide kami selama di Bali, bawah kursi untuk menonton Sendratari Kecak menggunakan sistem siapa cepat dia dapat memaksa saya untuk segera memasuki area panggung untuk bergabung dan memperebutkan kursi panas di dalam arena.

3 bapak-bapak setengah baya dengan segenggam tiket mencegat saya, Rama, Rendy, dan beberapa teman vidiografer lain karena membawa peralatan vidio yang cukup memakan tempat. Rama adalah seorang vidiografer dari stasiun tv swasta memang terlihat mencolok ketika kamera MD dan tripod berukuran raksasa tersebut dia bopong. Saya, Rendy, dan Mawski pun turut dilarang masuk ketika tripod dan slider yang kami tenteng dirasa akan mengganggu kenyamanan penonton lain. Pak Stive yang merasa tidak enak dengan sikap penjaga loket segera meminta maaf kepada kami dan menawarkan untuk membawakan tripod dan slider untuk dibawa kembali menuju bus, sedangkan kami dipersilahkan masuk karena kursi panas di dalam arena semakin penuh terisi oleh para penonton lain.

Kursi bagian atas tribun dengan pemandangan laut lepas memang menjadi bagian yang paling diperebutkan para pengunjung. Apalagi dari sisi ini, penonton dapat menyaksikan matahari terbenam dengan lebih jelas. Menonton Tari Kecak berlatar senja memang pengalaman yang saya tunggu-tunggu.

Mawski dan Rendy memilih kursi di bawah, persis di paling depan agar dapat mengambil gambar dengan lebih detail. Mengabadikan gambar dan video memang tugas saya saat itu, tapi menikmati Tari Kecak dengan cahaya mentari yang menyorot berwarna keemasan tidaklah datang sekali dalam setahun. Momen-momen langka sepertinya memang tidak harus diabadikan melalui sebuah gambar, begitu pikirku.

Sekitar 70 orang pria dewasa dan anak-anak keluar dari sebuah pintu bagian belakang panggung. Menggunakan celana pendek yang tertutup oleh kain kotak-kotak berwana hitam dan putih, bertelanjang dada, dan sedikit hiasan putih di bagian muka mereka. Masing-masing berteriak dengan nada yang sama, namun ritme yang berbeda, sebuah kumpulan suara dengan menghasilkan harmoni.

Mentari perlahan mulai ditelan oleh bumi. Pementasan Tari Kecak semakin meriah ketika adegan Abdi Alengka Pura mengutus para raksasa untuk membakar Hanoman yang berusaha menyelamatkan Dewi Sita yang ditawan oleh Rahwana. Api membara di sekitar panggung, para penonton turut terbakar semangatnya untuk semakin mengabadikan setiap adegannya di bagian akhir cerita Tari Kecak tersebut. Lampu-lampu di sudut tribun mulai surut ketika si kera putih dengan kesaktiannya akhirnya lolos dari maut dan mampu membebaskan Dewi Sita dari sekapan Rahwana. Penonton mulai meninggalkan tempat duduknya masing-masing, keluar menuju pintu keluar yang berada di bagian bawah tribun, beberapa masih terlihat berdiri dengan memberi kesan kagum dengan bertepuk tangan atas alur cerita yang dikemas sangat apik oleh para pemain.

Arena yang mulanya terlihat meriah berubah menjadi panggung sunyi yang diisi oleh penonton-penonton yang masih bertahan dengan rekaman-rekaman foto dan video di kamera mereka. Saya yang terkesima dengan seluruh rangkaian cerita Tari Kecak mengakui bahwa keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.