Sudah 6 bulan berlalu sejak saya pertama kali pergi berkemah di Gunung Api Purba. Oke 1 bulan yang lalu saya juga pergi kesana, dan itu untuk kesekian kalinya. Tetapi mendaki Gunung Api Purba dengan peralatan seadanya dan dengan cara bushcraft adalah yang pertama untuk saya.

Bushcraft adalah keahlian hidup di alam bebas. Pertama kali dipopulerkan oleh Les Hiddins & Mors Kochanski di tahun 80an. Menurut kamus Oxford, bushcrat adalah “skill in matters pertaining to life in the bush”. Di dunia pecinta alam indonesia, bushcraft sering disamakan dengan survival. Padahal bushcraft dan survival berbeda. Survival punya bahasan lebih luas yang tidak melulu soal bertahan hidup di alam bebas, tetapi bushcraft dan survival mempunya daerah persinggungan di cara/teknik bertahan hidup di alam bebas. Misalnya, cara menyalakan api, membuat tempat hunian, mencari makan/air, dsb. Intinya, bushcraft adalah skill hidup hanya di alam bebas, bush: semak-semak, dan survival adalah skill bertahan hidup dimana saja.

Beni, begitu biasa dia dipanggil. Sedikit kurang enak memang menyebut namanya, karena dia orang paling ngeselin di bumi. Tapi lucu. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah gombalan dan plesetan garing. Entah bagaimana pacarnya bisa menerima keadaan semenyedihkan itu.

“Del, GAP yuk. Hammockan aja, sambil ngopi-ngopi lucu.”
“Bukannya keretamu berangkat malem ini, Ben?”
“Keretaku gak akan berangkat kalo aku belum dateng, Del. Tiket kereta masinisnya aku yang bawa. Hahaha..”
“…”
*kemudian hening*

Untuk jaga-jaga, saya mengajak Ajo dan Obi. Emm.. saya lupa antara Ajo, Obi atau saya yang terakhir diajak. Masih terlalu pagi bagi kami berempat, karena jam menunjukan pukul 10 pagi. Yap, jam segitu adalah jam bangun pagi kami bila tidak ada janji, tapi masalahnya kami tidak pernah punya janji selain malam hari untuk minum kopi.

“Mau berangkat jam berapa, Del?”
“Habis sholat jumat aja, Ben.”
“Kalo gak sholat jumat, brati gak berangkat-berangkat dong? Hahaha…”
“TERSERAAAAH…!!”

Jam 2 siang akhirnya kami beranjak dari kost. Membawa peralatan seadanya, bukan karena kita memang berniat bushcraft di sana, tetapi karena dikejar kereta, lebih tepatnya dikejar waktu kereta yang akan berangkat dan hasrat ingin menikmati hutan sebelum pulang ke Jakarta. *sepertinya saya harus terus membaca ulang setiap kata di tulisan ini agar nantinya tidak jadi bahan plesetan garing si Beni.*

Hari itu sangat ramai. Sudah ada ratusan pendaki yang mendahului kami untuk sekedar foto-foto lalu pulang, tentu saja pendaki yang menginap juga tidak sedikit karena memang sedang libur lebaran. Kami yang kaget melihat parkir motor dan mobil yang penuh tadi memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan sampai puncak. Memilih untuk memasang hammock tidak jauh dari jalur pendakian. Menggelar matras kemudian bermain ukulele yang dibawa Ajo.

Ukulele adalah alat musik petik sejenis gitar berukuran kecil, sekitar 20 inci, dan merupakan alat musik asli Hawaii, ditemukan sekitar tahun 1879. Dalam musik keroncong, ukulele menjadi alat musik utama dengan suara crong, crong, crong, sehingga musik asli Indonesia tersebut disebut keroncong sejak 1880.

Beni yang sejak kemarin pamer pisau barunya tentu pisau adalah benda pertama yang dia keluarkan dari tasnya sejak tadi. Mencari kayu untuk diukir, meskipun tidak tahu akan mengukir apa. Ajo nampak sudah kelelahan dan terlalu nyaman dengan hammocknya. Mulai melipir untuk tidur siang. Obi entah dimana. Dan beni, masih potong-potong kayu.

Nampaknya ukir-mengukir kayu ini berguna, Beni berhasil membuat dudukan kompor untuk memasak air. Saya dan Obi yang akhirnya merasa bosan ini mulai mencari ranting-ranting kayu untuk diolah olehnya. Bukan untuk ikut dimasak, tapi untuk bahan bakar api.

“Wah, ini yang namanya piknik beneran, mas.”
“Hahaha.. Sini mas mampir ngopi-ngopi.”
“Kalo foto-foto boleh gak?”

Beberapa pendaki nampak tertarik untuk bergabung melihat kami menggelar hammock dan memasak air menggunakan kayu bakar. Benar-benar pemandangan yang jarang didapat di gunung ini, mengingat tidak banyak yang berkemah dengan cara sederhana semacam ini. Bahkan beberapa orang menghentikan langkah kaki mereka hanya untuk mengeluarkan kamera di dalam tasnya untuk memfoto kami dari kejauhan. Malu-malu tapi mau.

Satu hal yang mungkin kita lupakan, kami tidak membawa logistik untuk dimasak selain kopi, bahkan cemilan tidak termasuk dalam list belanja kami ketika mampir di warung kelontong sekitar basecamp Gunung Api Purba.

Soal warung kelontong ini, selain menjual minuman dan rokok, mereka juga menjual menu-menu makanan. Tidak ada yang spesial di warung ini, kecuali harga makanan yang murah, meriah, muntah. Untuk satu porsi nasi goreng seukuran jumbo (bagi saya yang suka makan di warung makan di kota jogja, porsi ini termasuk porsi jumbo) dihargai 6 ribu rupiah. Dengan harga miring seperti itu, mungkin kita akan berfikiran bahwa potongan ayam dan telurnya pasti tidak seberapa, atau rasa nasi goreng yang hambar. Ternyata tidak. Nasi dan potongan ayam serta telurnya cukup untuk porsi sebanyak itu. Rasanya, nikmat! Oke, nikmat bukan soal harga, ini soal komposisi.

Selain nasi goreng, tentu ada mi goreng dan mi rebus. Ada juga soto. Semua dalam porsi jumbo. Semua dalam harga miring. Entah karena semua bahan baku didapat dari ladang mereka sendiri atau bisa jadi penjual ini tidak mencari keuntungan. Who knows?

Suara riuh mulai menghilang. Cahaya matahari terganti terangnya bintang-bintang. Air dalam ceret mulai mengering. Ampas kopi memenuhi gelas. Dan kami harus kembali pada kehangatan keluarga. Bukan tenda, juga pantai dan gunung yang beratapkan bintang. Kembali ke rumah adalah pulang.

-93 Million Miles-