Padang Lamun: Rumah Mereka, Untuk Kita

Marisa yang kembali dirindukan. Sudah cukup seabad untuk menahan memberimu kabar apa yang terjadi di tanah tumpah darah. Meskipun aku tau menunggu itu hal yang membosankan, tapi percayalah, setiap kisah yang kuceritakan akan mengobati rindu, walau tak sedikit pula kau akan mendengar jeritan kami.

Aku malu, Mar. Aku malu pada diriku dan orang-orang di sekelilingku. Lautan biru dan ikan-ikan warna-warni kini telah tiada. Mereka ada, tapi tak seperti ada. Bisa kamu bayangkan bukan? Ikan-ikan cantik bukan sekedar indah di mata, tapi mereka pula makanan ikan yang lebih besar. Artinya, aku dan bapak kini tak lagi memakan ikan. Hidup kami semakin susah, Mar.

Padang lamun kini sekedar padang. Tak banyak lagi kutemui duyung-duyung seperti dulu. Mereka memburunya. Duyung-duyung kita sedang diintai kepunahan, Mar. Orang-orang masih percaya dengan legenda Putri Duyung. Menjadikannya hewan hias di rumah sempit mereka. Bahkan banyak yang memburunya sekedar untuk mendapatkan air matanya untuk memikat hati. Mungkin karena manusia kini tak semenarik orang-orang dulu.

Marisa yang sangat-sangat aku rindukan, aku ingat ketika kita berenang bersama di lautan. Dugong-dugong berlarian ketika aku mengagetkan mereka di sekitar dermaga rumah. Semenjak itu, mereka tak lagi tampak di pantai sekitar rumah. Bapak marah-marah karena itu. 2 bulan aku tak diberi uang jajan. Konyol kalau diingat, tapi lama-lama aku mengerti kenapa bapak sampai sebegitu marahnya kepadaku. Sebagai nelayan ulung, lahir dan besar di pesisir, bapak tahu persis manfaat ikan duyung. Walau seperti sedang mengacak-acak dasar lamun, tapi justru yang dilakukan duyung sedang menyuburkan padang lamun. Padang lamun inilah tempat banyak habitat hewan-hewan muda dan dewasa. Perginya duyung di sekitar rumah kami, tentu berdampak besar bagi ekosistem flora dan fauna di sana.

Oiya Mar, semenjak bapak menjadi tukang kebun, beliau sudah tak sekalipun melaut. Dia memilih menghabiskan waktu di daratan. Mungkin hidup di kebun membuatnya lebih tenang. Tak bertemu dengan ombak yang keras, atau apapun, aku tak mengerti alasan dia berganti profesi. Walaupun ketika di rumah, tak henti-hentinya beliau bercerita soal #DuyungmeLamun , soal DSCP Indonesia yang terus berkampanye tentang penyelamatan dugong di Jakarta Convention Center beberapa waktu lalu. Beliau bercerita dengan berapi-api, marah kepada orang-orang yang memburu para duyung. Persis seperti memarahiku saat mengusir dugong waktu itu.

Untungnya, gak cuma bapak yang berjuang menyelamatkan dugong-dugong ini. Ada banyak, Mar. Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP dengan WWF, LIPI, dan IPB bekerja keras menjaga ekosistem duyung-duyung. Aku senang mendengarnya, dan aku juga yakin kamu pun senang melihat perjuangan bapak.

Marisa yang anggun, aku rindu. Bapak juga. Alam juga rindu. Mereka merindukan jejak kakimu yang lucu. Perjuangan ini mungkin tak pernah berakhir, tapi bila saatnya tiba, kamu akan tersenyum lega melihat duyung-duyung berenang dengan bebas di lautan. Bapak mungkin tak lagi marah-marah, dan aku bisa bercerita padamu lagi tentang keindahan.

Di usia yang tak lagi muda, bapak masih pergi ke beberapa pertemuan masyarakat nelayan. Mensosialisakikan tentang transplantasi dan penanaman lamun buatan. Tujuannya bukan semakin luas padang lamun di wilayah mereka, tapi seberapa besar pemulihan ekologi dari habitat tersebut dari kegiatan transplantasi. Mungkin itu satu-satunya cara yang bapak masih bisa lakukan untuk memulihkan lamun dari kehancuran.

Mar, aku tak mau ceritaku ini terlalu panjang. Karena yang aku inginkan adalah mengabarkanmu tentangku dan bapak. Aku juga ingin kamu mendoakan kami semua agar perjuangan bapak melestarikan dugong dan lamun tak sia-sia. Semoga kamu tetap tenang di surga, Mar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *