Senja di Paradise

Beberapa bulan lalu ketika saya berkunjung ke Kupang, ada perasaan lega yang luar biasa. Ketika berkali-kali saya harus mengurungkan niat untuk bertandang ke kota ini. Sebuah kampung halaman yang saya bangga-banggakan namun memori tentang kota ini hampir musnah saking lamanya tidak kembali. “Mulai dari Lampung, sampai dengan Labuan Bajo!” begitu kata Zacky ketika ajakannya untuk

Da Cau dan Taman Kota Hoo Chi Minh

“Carilah supir taksi yang berdasi, karena hanya supir berdasi yang menggunakan argo.” Itulah petuah yang saya peroleh dari internet sehari sebelum berangkat sendirian ke negeri orang. Sekitar jam 9 malam saya tiba di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam sekaligus yang paling ramai di negara ini. Menyusuri kota yang

Situbondo di Bulan September

Melakukan perjalanan ke Banyuwangi bukan yang pertama buat saya. Berkunjung ke kota ini memang selalu menampilkan suasana yang berbeda, meskipun dengan orang yang sama. Memang bukan kuantitas yang saya utamakan, tapi pengalaman yang saya dapatkan memang tak pernah sama. Cerita perjalanan ini sebenarnya adalah cerita yang sudah lama ingin saya tulis di blog ini, karena

Pada Suatu Hari di Gunung Api Purba

Sudah 6 bulan berlalu sejak saya pertama kali pergi berkemah di Gunung Api Purba. Oke 1 bulan yang lalu saya juga pergi kesana, dan itu untuk kesekian kalinya. Tetapi mendaki Gunung Api Purba dengan peralatan seadanya dan dengan cara bushcraft adalah yang pertama untuk saya. Bushcraft adalah keahlian hidup di alam bebas. Pertama kali dipopulerkan

Voluntourism – Bibit dan Harapan 10 tahun

Di awal tahun. Penghujung bulan Januari. Saya dan beberapa travelmate mengagendakan melakukan perjalanan ke Desa Patakbanteng. 1 km sebelum memasuki Desa Dieng via Kota Wonosobo. Sebuah desa yang 3 tahun belakangan ramai dikunjungi pendaki. Sebelumnya ketika Gunung Prau mulai ramai dibicarakan orang, desa ini hanyalah desa kecil dengan mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Kentang dan

Gara dan Segelas Teh Anget Dieng – Part 2

“Numpang ya pak, dingin juga di sini.” Gara membuka perbincangan mencoba masuk ke dalam lingkaran perapian. Suasana yang ramah itu seakan tak berubah semenjak kedatangan orang baru. Mereka masih melanjutkan perbincangan tentang libur panjang yang membawa berkah bagi warung-warung kecil di desa ini. “Dari mana dek?” – seorang bapak tua lengkap dengan pakaian khas Dieng,

Gara dan Segelas Teh Anget Dieng – Part 1

Sore di Dieng. Sebuah penginapan tua berlantai dua, berdiri kokoh di sudut pertigaan. Bercat setengah merah dan putih dengan balkon yang selalu terisi oleh turis-turis asing. Menurut statistik, 50% penghuninya sedang tidur, 30% sedang membaca buku, 10% lainnya makan, dan 10% sisanya meninggal dunia. Oke, ini bohong! Statistik adalah jelmaan kebohongan nomer tiga, menurut Benjamin