udah lama banget gak nyentuh ini blog, kalo besi pasti udah karatan kena hujan dan panas haha
well, gue mau nulis keluh kesah lagi soal traveling yang ini gue dapet dari hasil baca-baca di timeline, nah kebetulan banyak akun jalan-jalan yang gue follow.. dari situlah ide-ide untuk mengkritik dunia travelling bermunculan..
mungkin kasus ini udah sering dilakukan oleh semua akun traveling, bahkan sejak dulu, termasuk gue sendiri pelakunya.. tapi baru gue sadari semalem karena twit oleh salah satu akun traveling, yaitu tentang tempat wisata yang wajib lo kunjungi.. yang kemudian gue lagi badmood aja tiba-tiba nyindir twit-twit tersebut..

betapa tidak, yang dilakukan oleh akun-akun traveling di twitter dengan foto-foto tempat wisata untuk memberi “racun” kepada pembacanya gue pikir sebagai proses eksploitasi tempat wisata tersebut, lalu ketika tempat wisata tersebut mulai ramai dikunjungi oleh “turis” ini dan hancur dengan sampah dan ribuan manusia berkumpul secara bersamaan, maka yang dilakukan akun-akun traveling ini adalah menyalahkan “turis-turis” tersebut..
apasih manfaatnya ketika kita menebar “racun”…….
lalu apa yang didapat oleh admin-admin ini? kepuasan.. kepuasan telah memberi “racun” kepada follower nya untuk jalan-jalan ke tempat wisata tertentu.. selebihnya mereka akan lepas tangan dengan hancurnya tempat wisata.. tapi permasalahannya, inilah salah satu cara yang disadari untuk menggaet follower, dengan mengikuti “pasar” yang ada, bahwa orang-orang sekarang sedang sibuk travelling dan iming-iming pemandangan yang indah dan berita soal dunia travelling, maka follower akan terus berdatangan..
jadi sederhananya adalah twitpic adalah salah satu cara untuk menggaet follower, namun hal tersebut tidak disadari secara langsung oleh admin-admin travelling, karena memang dampak yang ditimbulkan tidak terlihat dalam jangka pendek, sehingga yang dilakukan adalah sah-sah saja.. mirisnya, akun-akun travelling saling berlomba untuk menampilkan foto-foto terbaik mereka..

sejujurnya menebar racun dengan share foto-foto tempat wisata adalah sesuatu yang tidak salah, bahkan akan ada pembenaran bahwa wisata akan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, namun apakah hal tersebut diimbangi dengan kesiapan warga sekitar dengan dampak yang ditimbulkan? sama halnya dengan sebuah perusahaan yang akan muncul di suatu desa dengan iming-iming terserapnya tenaga kerja dan mengurangi pengangguran di tempat tersebut, namun apakah hal tersebut menjadi cara utama untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar? tidak, karena dampak negatif yang ditimbulkan tentu akan lebih besar..

jika kita pernah mendengar istilah ekowisata, maka hal tersebut belum sepenuhnya disadari oleh pencari nafkah dari warga sekitar.. disinilah kenapa menebar “racun” kepada follower menjadi hal yang salah, karena dengan menebar “racun” dan para wisatawan berdatangan sama saja kita telah membunuh anak cucu mereka dengan cara kita sendiri..

bukan kita yang salah, bukan juga warga sekitar yang salah, melainkan sistem.. sistem yang memaksa warga sekitar mencari nafkah dari wisata dengan cara yang sesingkat-singkatnya, sebanyak-banyaknya, dan akun-akun twitter mencari follower dengan cara berlomba-lomba menawarkan pemandangan yang paling yahud versi mereka.. dua pihak ini sama-sama mencari keuntungan, sementara pemerintah merasa bangga dengan devisa yang terus bertambah dari sektor wisata (jangka pendek)..

ah ngomong apa sih gue, sok care -__-