Saya harus hidup, maka saya merantau

DJI_0857

Saya percaya bahwa setiap orang harus angkat kaki dari rumah untuk sesuatu yang lebih besar, meskipun ketetapan meninggalkan Jogja adalah suatu pilihan yang pelik. Bagi saya, proses menjadi perantau adalah proses pembebasan. Bebas untuk menemukan cara berpikir baru, kebiasaan-kebiasaan baru, tanggung jawab-tanggung jawab baru (atau mungkin juga untuk tidak bertanggung jawab). Dengan merantau, individu memiliki kekuatan, juga tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri, terhadap identitas diri.

Menjadi perantau adalah menjadi individu, menjadi diri sendiri, bukan sekadar bagian dari keluarga ini-itu, atau bagian dari masyarakat ini-itu. Menjadi perantau adalah melepaskan segala ekspektasi dan tekanan masyarakat, dan tumbuh tanpa kekhawatiran. Menjadi perantau adalah soal menemukan diri sendiri.

Merantau adalah proses membongkar diri sendiri. Seperti mengambil jarak terhadap diri, lalu menimbang-nimbang, menilai-nilai, menambah-mengurang, lalu membentuk lagi si diri. Tak ada keluarga yang ikut campur secara langsung. Setiap individu bebas membentuk diri, sekaligus bertanggung jawab penuh atas diri bentukannya tersebut. Setidaknya, begitulah yang dikatakan Rika Nova dalam blognya ketika dia memutuskan untuk hidup jauh dari orang tua.

Saya baru tiba di Jakarta setelah sekian bulan memutuskan untuk beranjak dari Jogja dan mencoba meniti karir di Ibukota. Pertanyaan pertama dari setiap orang yang saya temui di sini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Apa yang saya kerjakan? Pekerjaan semacam apa yang saya dapat? Dan sampai kapan saya bisa bertahan dengan kerasnya Ibukota yang konon lebih kejam dari ibu tiri? Namun, pertanyaan-pertanyaan yang seragam ini justru memberi berkah. Beberapa teman menawarkan kesibukan ketika mengetahui kegiatan saya yang lapang. Kekhawatiran tidak melakukan kegiatan apa-apa untuk mengisi waktu luang di Jakarta memang menjadi momok paling menakutkan karena semua orang bekerja selama 5 hari dalam seminggu. Praktis hanya ada 2 hari bisa bertemu dengan teman-teman di sini. Itupun bila mereka pada akhirnya jenuh berada di kamarnya masing-masing.

IMG_1691

Saya harus beradaptasi dengan sesuatu yang baru, segalanya serba baru. Gaya hidup yang serba ada di Jogja tidak bisa saya dapatkan begitu saja, harus ada perjuangan untuk menggapainya. Mencari tempat untuk sekedar mendapatkan koneksi internet saja saya harus menggunakan trans jakarta, tidak jarang ketika malas menunggu saya memilih Gojek karena lebih instan meskipun lebih mahal. Lucunya, saya harus menggunakan kereta untuk pergi ke satu tempat ke tempat lain meskipun masih di kota yang sama.

IMG_1737

Sejatinya saya tidak ingin berada dalam situasi ini, jauh dari keluarga, teman, dan tempat-tempat yang memberi saya rasa aman ketika berada di sana. Kita hanya dekat dengan sesuatu yang kita sukai. Dan seringkali kita menghindari sesuatu yang baru. Tapi orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu.

Memulai sesuatu yang baru selalu tidak mudah. Lebih mudah meneruskan apa yang ada, walaupun tidak mudah hidup dalam kesulitan. Hidup dengan orang tua di rumah membuat merasa aman, tapi kenyamanan membuat tidak berkembang. Bergerak adalah keharusan, meskipun tidak menjanjikan kemapanan.

**

Photo: Rendy Cipta Muliawan

6 thoughts on “Saya harus hidup, maka saya merantau

  1. aku bisa bertahan selama 3 bulan di sana, kini kangen kembali mengenang masa2 “tinggal” di ibukota dengan segala kurang lebihnya….saat ini tinggal dengan orang tua, sedikit demi sedikit membuatku ketergantungan dengan rasa aman dan nyaman dan takut mencoba hal2 yang baru…

    1. Itu dia mas yang bikin saya bertahan di Jakarta dengan ketidakpastian soal kemapanan.

      Yang penting bisa bertahan hidup, bisa belajar banyak hal di sini, itu lebih baik daripada hidup di rumah.

      Walaupun sbenernya semua kembali ke masing-masing orang. Ada banyak faktor juga orang milih di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *