Senja di Paradise

Beberapa bulan lalu ketika saya berkunjung ke Kupang, ada perasaan lega yang luar biasa. Ketika berkali-kali saya harus mengurungkan niat untuk bertandang ke kota ini. Sebuah kampung halaman yang saya bangga-banggakan namun memori tentang kota ini hampir musnah saking lamanya tidak kembali.

“Mulai dari Lampung, sampai dengan Labuan Bajo!” begitu kata Zacky ketika ajakannya untuk mengikuti agenda jalan bersama Kementrian Pariwisata. “Apa yang harus aku persiapkan?” tanyaku ketika mendengar Labuan Bajo menjadi salah satu kota yang akan saya kunjungi. “Cukup nulis aja, Del.” Jawabnya. Oh tentu, akan saya tulis semua cerita tentang Labuan Bajo dengan sangat detail tanpa perintah.

Surabaya yang menjadi kota ke 4 saya dalam rangkaian perjalanan ini adalah puncak kejenuhan setelah berhari-hari harus bangun sepagi mungkin untuk mengunjungi destinasi yang itu-itu lagi, naik turun ke bus yang dipenuhi dengan kewaspadaan karena kamera dan laptop berserakan di dalamnya, menempuh perjalanan berjam-jam dengan jalan yang berliku hanya untuk ke pusat oleh-oleh, atau bahkan berganti-ganti pesawat setiap 3 hari sekali. Saya harus mengutip kata-kata Ajo; seorang teman perjalanan yang telah saya kenal lebih kurang 5 tahun dengan tingkat idealis kelas Joseph Stalin, dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah menjadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan. Namun menuju Labuan Bajo membuyarkan kejenuhan yang selama beberapa hari ini menyelimuti sepanjang liburan. Rasa penasaran membuncah ketika pulau-pulau kecil dengan coral berwarna-warni mulai tampak dalam kaca jendela pesawat yang saya tumpangi. Pada awalnya hanya beberapa pulau kecil yang tampak, lama-kelamaan semakin sering dan semakin menambah rasa penasaran saya ada apa di pulau itu? dengan menunjuk salah satu pulau yang terlihat sangat indah.

Senyum lebar dengan hidung yang menonjol serta rambut keriting itu menyambut kami di Bandara Labuan Bajo. Dengan sigapnya dia mengenalkan diri dengan beberapa temannya yang akan menemani kami mengeksplorasi kota ini selama 3 hari. Logat bicara yang sangat khas, tekstur wajah, dan juga warna kulitnya begitu mengingatkan saya tentang  orang-orang di Kota Kupang. Sedikit mengobati rasa rindu saya yang telah lama ingin berkunjung ke sana.

8 mobil avanza telah menanti di depan bandara untuk mengangkut kami yang berjumlah 47 orang menuju sebuah bar di atas bukit untuk menyaksikan matahari tenggelam. Pada mulanya sekitar bandara kota ini tidak ada bedanya dengan kota-kota yang lain, sudah ada pusat perbelanjaan, resort, dan hotel-hotel bertingkat, namun rumah-rumah sederhana dengan dinding dan atap berbahan pohon lontar mulai terlihat. Selang sebentar mobil kecil kami yang memuat 8 orang telah tiba di Paradise Bar, setelah sebelumnya kami tertinggal dari iring-iringan mobil.

Sebuah bar dengan model kebarat-baratan ini cukup familiar, mengingatkan saya ketika bertandang ke Lombok sehari sebelumnya. Pintu masuk bergaya vintage yang ditata dengan rapi, 3 orang berambut gimbal dan bertato sedang asik bermain gitar, dan anjing perliharaan yang dibiarkan begitu saja di sekitar mereka turut menyambut saya di sana. Setelah melewati pintu, saya dihadapkan dengan barisan botol minuman beralkohol yang tentu saja bukan sekedar hiasan karena seluruh pengunjung bisa memesannya bila mampu. Satu set alat musik lengkap dengan drum dan gitarnya tergeletak di seberang pajangan botol minum tadi.

Mata saya terus tertuju ke ujung bagunan. Sebuah teras di atas bukit dengan cahaya matahari yang menyinari seisi bangunan ini menjadi spot yang tiba-tiba ramai oleh rombongan kami. Masing-masing segera mengeluarkan kamera untuk mengabadikan tenggelamnya matahari. Cahaya kuning keemasan cukup menyilaukan mata. Panasnya mentari sore itu saya tantang dengan merekam terus-menerus, seperti sangat disayangkan ketika matahari yang dinanti-nantikan kamu lewatkan begitu saja. Bahkan, jika saya melewatkan kesempatan merekamnya, saya harus kembali merogoh kocek untuk pergi ke Labuan Bajo yang harga tiketnya tidak sedikit, meskipun dalam kesempatan ini saya tidak mengeluarkan uang sepersenpun untuk menginjakkan kaki di tempat ini, tapi tidak ada yang tahu kapan kesempatan kedua itu akan datang.

Seolah tak mau kalah, kapal-kapal tampak bergerak di depan kami mencoba mencari perhatian. Dari mulai kapal berukuran kecil, sampai dengan kapal layar berukuran besar yang berbentuk bak kapal Phinisi. Semua berkumpul menjadi satu di sebuah pelabuhan di bagian bawah bukit bar ini berada, seolah menunjukan kepada kami, di sinilah seharusnya pusat daya tarik kota ini, karena senja tak selalu sama.

Kursi-kursi di bagian teras bar telah terisi penuh dengan tas yang kami bawa, tapi pemiliknya entah berada di mana. Masing-masing dari kami mencoba mengabadikan senja yang berlangsung tak lama ini, namun kursi-kursi segera terisi penuh begitu langit mulai tampak gelap. Keriuhan bar berganti dengan kesunyian yang justru menambah sisi romantis kota ini dilihat dari Paradise Bar.

Pelayan-pelayan setengah baya memberi salam kepada kami, sebuah ucapan terima kasih telah berkunjung ke tempat mereka. Senyum mengembang tampak di setiap petugas di balik meja berukuran panjang dengan pajangan botol-botol minuman itu, memberi kesan yang menyenangkan dan akan saya rindukan ketika kembali ke Jogja yang padat dan mulai kehilangan keramahannya.

 

Labuan Bajo adalah kota kelima yang dituju dalam acara Social Media Trip & Gathering 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia (www.indonesia.travel). Temukan foto-foto dan video perjalanan ini di Twitter dan Instagram melalui tagar #PesonaIndonesia dan #SaptaNusantara

2 thoughts on “Senja di Paradise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *