Senja Pertama di Paradise

Ketika saya berkunjung ke Kupang, ada perasaan lega yang luar biasa. Berkali-kali harus mengurungkan niat untuk bertandang ke kota ini. Sebuah kampung halaman yang saya bangga-banggakan namun memori tentang kota ini hampir musnah saking lamanya tidak kembali.

“Mulai dari Lampung, sampai dengan Labuan Bajo!” begitu kata Zacky ketika ajakannya untuk mengikuti agenda jalan bersama Kementrian Pariwisata. “Apa yang harus aku persiapkan?” tanyaku ketika mendengar Labuan Bajo menjadi salah satu kota yang akan saya kunjungi. “Cukup nulis aja, Del.” Jawabnya. Oh tentu, akan saya tulis semua cerita tentang Labuan Bajo tanpa perintah.

Surabaya yang menjadi kota ke 4 saya dalam rangkaian perjalanan ini adalah puncak kejenuhan setelah berhari-hari harus bangun sepagi mungkin untuk mengunjungi destinasi yang itu-itu lagi, naik turun ke bus yang dipenuhi dengan kewaspadaan karena kamera dan laptop berserakan di dalamnya, menempuh perjalanan berjam-jam dengan jalan yang berliku hanya untuk ke pusat oleh-oleh, atau bahkan berganti-ganti pesawat setiap 3 hari sekali. Saya harus mengutip kata-kata Ajo; seorang teman perjalanan yang telah saya kenal lebih kurang 5 tahun dengan tingkat idealis kelas Joseph Stalin, dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah menjadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Namun menuju Labuan Bajo membuyarkan kejenuhan yang selama beberapa hari ini menyelimuti sepanjang liburan. Rasa penasaran membungkah ketika pulau-pulau kecil dengan coral berwarna-warni mulai tampak dalam kaca jendela pesawat yang saya tumpangi. Sebuah pesawat kecil carteran  yang panas nan berisik ini berangkat dari Lombok menuju Labuan Bajo.

 

Labuan Bajo

Sebuah bar dengan model kebarat-baratan ini cukup familiar bagi saya. Paradise Bar namanya. Pintu masuk bergaya vintage yang ditata dengan rapi, 3 orang berambut gimbal dan bertato sedang asik bermain gitar, dan anjing perliharaan yang dibiarkan begitu saja di sekitar mereka turut menyambut saya di sana. Setelah melewati pintu, saya dihadapkan dengan barisan botol minuman beralkohol yang tentu saja bukan sekedar hiasan karena seluruh pengunjung bisa memesannya bila mampu. Satu set alat musik lengkap dengan drum dan gitarnya tergeletak di seberang pajangan botol minum tadi. Mata saya terus tertuju ke ujung bagunan. Sebuah teras di atas bukit dengan cahaya matahari yang menyinari seisi bangunan ini menjadi spot yang tiba-tiba ramai oleh rombongan kami. Masing-masing segera mengeluarkan kamera untuk mengabadikan tenggelamnya matahari.

Cahaya kuning keemasan cukup menyilaukan mata. Panasnya mentari sore itu saya tantang tak henti-hentinya, seperti sangat disayangkan ketika matahari yang dinanti-nantikan kamu lewatkan begitu saja. Bahkan, jika saya melewatkan kesempatan merekamnya, saya harus kembali merogoh kocek untuk pergi ke Labuan Bajo yang harga tiketnya tidak sedikit, meskipun dalam kesempatan ini saya tidak mengeluarkan uang sepersenpun untuk menginjakkan kaki di tempat ini, tapi tidak ada yang tahu kapan kesempatan kedua itu akan datang.

 

bersambung

One thought on “Senja Pertama di Paradise

  1. Jika satu sloki minuman alkohol mahal, bisa jadi kita cukup minum kopi satu gelas; dibawa ke atas bangunan sambil mengabadikan sunset pertama di sana.

    Semua tetap baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik karena kita menikmati momen tersebut 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *