Melakukan perjalanan ke Banyuwangi bukan yang pertama buat saya. Berkunjung ke kota ini memang selalu menampilkan suasana yang berbeda, meskipun dengan orang yang sama. Memang bukan kuantitas yang saya utamakan, tapi pengalaman yang saya dapatkan memang tak pernah sama. Cerita perjalanan ini sebenarnya adalah cerita yang sudah lama ingin saya tulis di blog ini, karena terjadi di bulan September. Oke, bukan bulannya, tapi tanggal dan bulannya.

23 september kami memulai perjalanan menuju Banyuwangi dari Jogja. Tiket yang dibeli oleh seorang teman 1 hari sebelum keberangkatan itu mengagetkan saya malam sebelumnya.

“Mas, besok jadi ya anterin aku ke Banyuwangi.”
“Heh, besok ini banget?”
“Iya, tiketnya udah aku beliin. Naik kereta Sri Tanjung jam setengah 8 pagi.”
“Wooot?

Tidak ada yang spesial dalam perjalanan kami selama di kereta. Semua terjadi begitu saja. Nana adalah teman lama yang sebenarnya kami sudah lama ingin jalan-jalan bareng. Teman perempuannya namanya Fitri adalah seorang relawan di sebuah lembaga non pemerintah, dan sudah 1 tahun mengajar di desa kecil di Lombok. Satu lagi laki-laki. Oke, saking lamanya tidak ada kabar, saya sampai lupa namanya. Tapi mari kita sebut saja Tio. Mereka bertiga adalah teman sewaktu KKN di Papua. Sejenislah, berperawakan anak-anak pondok pesantren, sampai selama perjalanan saya memanggil tim ini adalah AnakSholatYK. Geng tak lupa waktu sholat dari Yogyakarta.

Awalnya sangat canggung dengan pikiran saya yang akan menghabiskan perjalanan selama 3 hari ini bersama orang-orang Islam radikal. Tidak ada yang ngomong Berak! Anjing! Babi lu! dan sejenisnya. Memaksa saya untuk menjaga sikap dan perkataan, yang pada akhirnya 15 jam perjalanan di kereta saya habiskan lebih banyak untuk membaca buku yang biasa saya siapkan sebelum berangkat.

“Del, udah di mana?”
“Bentar lagi, Cax. Udah mau sampe Glenmore.”
“Oke, turun di Karangasem aja ya.”

Wicax adalah teman lama saya di Kaskus, berbaik hati menjemput di stasiun tengah malam. Ini adalah pertolongan Tuhan. Positif thinking aja, semua terjadi karena saya bersama Geng tak lupa waktu sholat dari Yogyakarta. Alhamdulillah kali ini jadi wisata religi.

Kunjungan ke Banyuwangi untuk yang kesekian kali ini membuat saya familiar dengan kota dan beberapa tempat wisatanya. Itulah kenapa Nana mengandalkan saya untuk menjadi Leader kali ini. Semua tergantung saya, Tuhan yang memutuskan. Tapi kalo bisa main ke Baluran dan Kawah Ijen. Ya. Sedikit lega karena kalo 3 hari itu diminta jalan-jalan ke makam Wali Songo mungkin saya jadi makmum mereka aja daripada jadi imam.

Pagi hari banget nget nget kami sudah bersiap meluncur menuju Baluran. Jam 8 kami check out dari hotel murah meriah muntah di pinggir jalan sekitar Ketapang. Masih dalam suasana canggung tapi berasa yakin sepulang dari Banyuwangi jadi mabrur. Amin. Tidak lama kami sampai di pintu masuk Baluran. Gak nyangka ternyata sedekat itu. Kaget, tapi kagetnya pake astaughfirullah.

“Mas, kalo mau masuk ke savana naik angkot saya skalian aja. 300rb deh.”
“Wah mahal banget, 100rb laah.”
“Jaooh, mas. 20km dari sini.”
“Set! Yaudah mas gpp, tapi kita foto-foto dulu ya di sini.”

Fitri yang daritadi sibuk dengan iPadnya ternyata sudah bersiap di posisi. “Cring.. Cring.. Cringg.” Suara aplikasi foto terdengar jelas. God! Selain rajin sholat, mereka juga Anak360. Geng filter andalannya Sexy Lips. Okesip.

Jalanan berbatu, pohon-pohon kering, dan sesekali hutan bekas kebakaran adalah pemandangan sepanjang perjalanan ini. Sampai pada akhirnya setelah kurang lebih 17km kami menyusuri hutan kering, kami bertemu dengan 4 musafir lain. Halah. “Mungkin mereka lagi manasik haji. Latihan lari biar gak kaget pas di Bukit Shafa ke Bukit Marwah.” pikirku.

5dd9352ba339015a8d823a96edc12b5d

Senna, Jo, Satria, dan Zalah adalah anak-anak Surabaya. Satu komplotan komunitas lari di sana. Sialnya, mereka gak tau kalo dari pintu masuk Baluran ke Savana Bekol jauhnya naudzubillah. Hahaha. Ini adalah awal pertemuan kami. Perjalanan masih panjang.

Selain savana dengan pemandangan luas dan kering serta hewan-hewan liarnya, tempat favorit lain di sini adalah Pantai Bama. Letaknya tidak jauh dari Savana Bekol. Kurang lebih 5km. Di pantai ini lebih ramai, mungkin karena lebih rindang. Sudah ada warung dan tempat-tempat duduk di bawah pohon dengan puluhan monyet yang siap mengerubungi kita bila ada tanda-tanda makanan.

Cuaca yang sangat panas membuat kita betah bermalas-malasan di sini. Jo dan Zalah sudah terlanjur menggelar matrasnya untuk tidur. Nana, Fitri, dan Tio yang kelaparan sejak tadi langsung meluncur ke warung untuk makan siang, mungkin sambil sholat. Senna sedang asik mengambil foto. Saya dan Satria memutuskan untuk berenang.

“Selamaaat ulang tahun, kami ucapkan~ Selamat panjang umuuur, kita kan doakaaan…~”

Suara yang tak asing bagi saya. Sedikit fales, tapi terdengar menyejukkan sekaligus mengagetkan. Dari balik pohon-pohon bakau mereka keluar dengan membawa sepiring nasi goreng dan lilin yang menyala di atasnya. Mereka berjalan ke arah kami. “Dem, tau darimana mereka kalo aku ulang tahun?” pikirku dalam hati. Senyum merekah. Cuaca yang awalnya sangat terik tiba-tiba menjadi terasa sejuk. Semua tertawa. Berteriak dan kemudian kembali menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Saya merinding. Suasana ini tidak asing, bukan yang pertamakalinya saya merayakan ulang tahun saat traveling, tapi tak pernah sebahagia ini. Terima kasih Tuhan atas kado ulang tahun yang sangat indah ini. Saat dimana saya bersama dengan orang-orang seperjalanan dan merayakannya di pinggir pantai yang hangat.

a9e1613a7cd249399de9b1f6219b6a39