solo traveler

Dalam perkembangan dunia pariwisata yang semakin pesat ini, semakin banyak pula orang-orang yang melakukan perjalanan. Dengan dalih ingin berlibur melepas penat, tak sedikit pula yang punya alasan untuk mencari jati diri, proses pendewasaan, dan lain sebagainya.
 
Suatu malam gue ngetwit tentang rencana perjalanan gue selanjutnya ke Dieng, muncullah mention-mention yang isinya relatif sama, “sendiri lagi?”. Apa salahnya kalau kita traveling sendirian? Bukankah disitulah cara untuk mengenal lebih jauh tentang diri kita sendiri? Proses pendewasaan yang mereka bicarakan ada di perjalanan ini.
 

Mari kita telaah bersama, bagaimana mungkin seseorang merasa dirinya lebih dewasa dan lebih mengenal budaya setempat atau lebih mengenal dirinya sendiri bila dia sedang ikut rombongan trip? Yang terjadi adalah mereka sedang menjadi follower. Dimana letak proses pendewasaan dirinya?
 
Sulit memang menjelaskan bagaimana seseorang menjadi lebih dewasa atau tidak dari sekedar melakukan perjalanan sendiri atau beramai-ramai, tapi bisa dipastikan keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melakukan perjalanan. Tak perlu muluk-muluk, seorang traveler yang melakukan perjalanan bersama-sama akan cenderung menuliskan serunya mereka traveling bersama teman-temannya ataupun tentang seberapa indah tempat yang dikunjungi dengan tambahan foto-foto epic mereka. Tapi mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh solo traveller, mereka akan cenderung menuliskan seberapa menarik masyarakat dan budaya sekitar atau betapa prihatin dirinya melihat ketimpangan sosial di daerah terpencil.

Tentu ini bukan soal matematika.

2 thoughts on “solo traveler

  1. itu balik lagi ke setiap individunya, gak semua solo traveller itu menulis, dan gak smeua group trip akan begitu.. gak bisa di genaralisir. Solo atau group kan hanya pilihan dalam berjalan saja del.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *