RCM01968

Kapal-kapal tua bersandar di dermaga yang tak seberapa. Usianya tampak telah tua, meskipun masih rutin berlayar. Beberapa kapal dengan mesin yang masih menyala membuang limbahnya ke laut. Terlihat seperti limbah kamar mandi, tapi aku tak paham betul itu apa.

“50 ribu dek, nanti naik kapal sampe ke ujung sana. Kurang lebih 1,5km. Bisa foto-foto di kapal.” seorang bapak tua menawarkan kami jasa untuk berkeliling pelabuhan menggunakan kapal kecilnya. Saya, Rendy, dan Wawan memang berencana memotret sore itu di Pelabuhan Sunda Kelapa, tapi sama sekali kami tak tahu ada apa di sana. Melihat tawaran berkeliling menggunakan kapal, pun ini ada di Jakarta, sepertinya adalah pengalaman yang langka. Segera kami melompat ke dalam kapal mungilnya untuk menyusuri dermaga yang ternyata tak seberapa. Dalam 10 menit tour kami dengan kapal kecil telah berakhir. Si bapak tua menurunkan kami di sebuah kapal besar yang bersandar di dermaga, namun tampaknya suasana di pelabuhan lebih menarik perhatian kami.

Menjelang matahari tenggelam, sebuah truk besar sedang mengangkut tanah putih, hasil dari Pulau Tanjung. Puluhan orang terlihat mengarahkan mesin pengangkut untuk memindahkan tanah putih ke atas truk. “Udah lama kerja di sini, Pak?” tanya saya penasaran. “Udah 12 tahun opo yo. Lupa aku. Aku seko Purwokerto, sik iki seko Banyumas.” kata salah satu pekerja yang tengah beristirahat di pinggir dermaga. Sekujur tubuhnya berwana putih, seperti terkena tumpahan bedak. Tak terlihat wajah kelelahan, mereka bahkan cukup ceria dengan pekerjaan yang menguras tenaga tersebut. Bahkan, beberapa tampak ramah memberi senyum, sesekali berpose menandakan siap untuk difoto. “Mas, fotoin mas. Buat sosmed.” timpal salah satu pekerja.

RCM01966

Cukup senang rasanya bisa berlibur di sudut kota Jakarta yang di dalamnya terdapat orang-orang yang ramah. Pegawai Pelindo II yang turut berjaga pun turut berbaur dengan kami. Bercerita sedikit banyak tentang kondisi di pelabuhan.

Kala itu, 6 abad lalu sebuah pelabuhan menandakan kejayaan. Pelabuhan Kalapa yang dimiliki oleh Pajajaran menjadi bahan rebutan oleh kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa, termasuk Belanda yang menguasainya selama lebih dari 300 tahun. Hingga akhirnya tahun 1970-an, nama pelabuhan ini resmi menjadi Sunda Kelapa.

Kerajaan Pajajaran menggunakan tempat ini untuk bertukar sutra, kain, kuda, anggur dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu. Banyak penjelajah dari Sumatera, Malaka, Jawa, Madura, dan Sulawesi bertandang ke pelabuhan ini untuk berdagang.

Salah satu penjelajah Portugis yang telah menguasai Pelabuhan Malaka saat itu datang ke Kerajaan Pajajaran atas undangan dari raja untuk membangun benteng keamanan, karena saat itu Cirebon berusaha memperluas wilayah kekuasaannya, dan Demak telah menjadi kekuatan politik Islam.

Kerajaan Demak yang melihat perjanjian Pajajaran dengan Portugis menganggap hal tersebut sebagai sebuah ancaman. Tanggal 22 Juni 1527, bersama dengan Cirebon, Fatahillah memimpin perebutan Sunda Kelapa yang hingga saat ini dijadikan sebagai hari jadi kota Jayakarta, yang berarti kota kemenangan atau kota kejayaan.

RCM01959

Kini, meskipun masih menjadi salah satu tempat berlabuhnya kapal-kapal pengangkut barang, namun kebesarannya mulai tergerus oleh desakan pasar. Dimulai dari sekitar tahun 1859 terjadi pendangkalan laut di sekitar Sunda Kelapa. Kapal-kapal besar harus berlabuh di tengah laut dan dilanjutkan menggunakan kapal-kapal kecil untuk mengangkut barang. Batavia yang saat itu bersaing dengan Singapura dalam pembangunan infrastruktur, harus mengorbankan Sunda Kelapa dan mulai dibangunlah Pelabuhan Tanjung Priok untuk memfasilitasi kapal-kapal besar nan modern.

Penjaja makanan mulai berdatangan menjelang gelap. Segera para pekerja mengerubutinya, lebih tepatnya seperti kerusuhan. Jajanan pasar yang tak seberapa habis dilahap para pekerja. Semua untung. Rasanya menyenangkan sekali hidup berdampingan seperti mereka.

RCM01969

RCM01967