VanDiary – Syukron Korban Begal Lampung

Setelah menggeber Jimny tua secepat kilat, akhirnya kami tiba di sebuah warung dengan pencahayaan seadanya di pinggir jalan di antara ribuan hektar hutan karet dan sawit. Syukron masih tampak beroman pucat, atau memang begitulah paras Syukron setiap harinya, walaupun baru setengah jam kami berpisah untuk menjemput Kang Hendra yang memutuskan berhenti berlari di tengah jalan