Ada banyak tipe pejalan yang gue temukan. Sebagian besar melakukan perjalanan bareng komunitas, tapi tidak sedikit pula yang (pada akhirnya) memilih untuk menjadi single fighter karena alasan tertentu. Tentu saja tidak bisa kita pungkiri perkembangan pariwisata indonesia tidak lepas dari campur tangan komunitas-komunitas pejalan yang meracuni anggotanya untuk ikut menjelajah negri ini.
 
Seiring waktu, penggiat jalan-jalan semakin berkembang pesat, semakin banyak traveller yang mencari tiket promo untuk mendapatkan tiket murah ke suatu tempat. Komunitas-komunitas pejalan juga semakin besar dengan semakin banyaknya anggota yang join trip mereka, tapi yang terjadi adalah anggota-anggota ini sebatas join trip, tidak ikut serta merta membesarkan dan menyumbang ide agar komunitas-komunitas ini terus eksis, yang pada akhirnya komunitas-komunitas ini habis dimakan usia tanpa adanya regenerasi.
 

Ada 2 hal yang menurut gue komunitas-komunitas ini tidak bisa bertahan lama:
 
1. Tiket pesawat murah yang ditawarkan maskapai-maskapai penerbangan memaksa traveller melakukan perjalanan dengan teman terdekat mereka sendiri, atau bahkan banyak yang pada akhirnya melakukan solo trip. Hal ini berimbas pada banyaknya member yang kehilangan rasa memiliki pada komunitas mereka, sehingga banyak member yang menjadi tidak mempunyai keterikatan untuk harus membesarkan komunitas yang telah melahirkan mereka.
 
2.  Apa ya, gue sebut saja pengurus komunitas, meskipun bukan pengurus, tapi mereka adalah orang yang aktif dan selalu memberikan ide-ide segar untuk dibawa kemana komunitas ini, jadi sebut saja mereka adalah pengurus komunitas. Nah para pengurus ini sadar bahwa member mereka banyak, bahkan ketika melakukan ajakan trip selalu ramai dengan orang-orang baru yang semangat bergabung dalam trip mereka. Tapi yang dilakukan tidak cukup untuk melakukan regenerasi. Pengurus selalu mencoba melakukan ajakan trip untuk berkenalan dengan orang-orang baru, tetapi tidak untuk menjadikan mereka pengurus yang baru bagi komunitas mereka. 
Buntu, sampai pada akhirnya berujung pada ajakan ngumpul bareng pengurus lama untuk kembali membesarkan lagi komunitas. Hal inilah yang tidak disadari, bahwa pengurus lama tidak lagi aktif di komunitas karena kesibukan dan jadwal trip mereka sendiri-sendiri.
Pengurus terus saja bernostalgia dengan masa-masa kejayaan mereka yang lalu, sehingga lupa bahwa untuk melakukan regenerasi tidak bisa dengan menarik kembali orang-orang lama untuk bergabung, tetapi justru mencari orang baru untuk meneruskan perjuangan mereka. Tentu dengan adanya orang-orang baru akan memicu kecemburuan orang-orang lama karena hilangnya eksistensi mereka di komunitas mereka sendiri, tapi sudah sewajarnya semua orang sadar diri bahwa untuk komunitas terus eksis adalah perlunya regenerasi. Nostalgia memang perlu, tapi bukan satu-satunya cara jitu mengembalikan nama besar komunitas mereka.
 
 
:fm: Circa Survive – Your Friends Are Gone