Alarm menununjukan pukul 7 pagi. Waktu saya dan Kukuh janjian untuk pulang ke Dieng. Iya pulang, karena Kukuh memang punya rumah di sana. Karena ini adalah kunjunganku yang kesekian kalinya. Rumah ketiga saya setelah rumah orang tua, dan gunung api purba.

     “Del, Dieng yuk, pulang besok pagi.”

     “Wah gak bisa, Kuh. Besok pagi-pagi aja tapi gak usah nginep. Siang langsung balik Jogja.”

Kasur kamar sepertinya terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Itulah kenapa setiap perjalanan begitu berharga, karena terlalu disayangkan bila harus meninggalkan tempat ternyaman di muka bumi ini hanya untuk tidur di masjid, seharian. Seperti perjalanan saya berdua dengan Eka ke Sragen. Ah lupakan, certa perjalanan ke Sragen seharusnya menjadi part sendiri untuk diceritakan.

Masih terlalu pagi, pikirku. Segera saya SMS ke Kukuh menanyakan apakah sudah bangun, berharap dia tidak membalas SMS dan saya bisa melanjutkan kencan dengan kasur istimewa ini. 1 menit, 5 menit, 10 menit. YES! Tidak ada balasan, Kukuh masih belum bangun. *peluk guling*

Ditengah lelapku, telepon berdering. Aaaah.. seingetku aku gak aktifin alarm. Setengah sadar saya mencoba merain handphone di atas meja, mencoba mematikan alarm tak tau diri ini.

Kukuh! Ada namanya di alarmku. Sebegitu horornya nama dia, sampai muncul nama Kukuh di tampilan alarm. Eits, ini telepon!

“Oi Kuh.” Dengan semangat saya menjawabnya, agar terkesan sudah mandi dan siap berangkat. Ini trik yang sudah saya praktekkan untuk kesekian kali. Dan mereka sukses percaya dengan tipu daya ini. Hahaha..

                 “Dimana Del? Aku udah siap nih. Udah mandi kan?”

                “Udah doong, tinggal berangkat kok ini.”

                “Sip, ketemu di Njagat Cafe ya. Aku otw sekarang.”

Gleg! Sontak saya beranjak dari kencan pagiku dengan kasur. Mengambil handuk dan mandi ala saya pacaran, cepet kelarnya.

Astaga! Udah jam 9 aja. Packing sekenanya. Ambil jas hujan, multitools, kacamata hitam, dan kamera. Dan saya tiba di Njagat Cafe lebih awal dari Kukuh. Ah, sial. Kukuh pakai trik yang sama denganku. Rupanya dia juga baru bangun saat menelponku tadi.

Tidak lama, datanglah sosok penipu ulung itu. Kukuh dengan tergesa-gesa, masuk berusaha datang lebih dulu. Sedikit kaget dengan keberadaan saya di dalam cafe, saya mengkeritkan dahi dan berbicara dalam hati, Hahaha. Dasar pemula.

Tidak lama kita segera berangkat ke Dieng melalui jalur Magelang Borobudur. Kukuh yang duduk di depan mengendarai kudanya supaya baik jalannya, mencoba mengejar ketertinggalan waktu karena kita memang sudah terlambat.

Jalanan menuju Dieng via Magelang Borobudur ini lebih singkat dibanding jalur Temanggung Parakan. Kita bisa menghemat 1-2 jam perjalanan. Lumajang bukan? 😀 Perbedaannya adalah jalur Magelang Borobudur ini didominasi jalanan aspal yang rusak. Sedangkan jalur Temanggung Parakan didominasi pemandangan pegunungan Sumbing dan Sindoro dengan jalan beraspal yang sangat mulus.

Memasuki Kota Wonosobo, Kukuh menawarkan tempat wisata yang mungkin orang kebanyakan belum pernah kesana. Adalah sebuah telaga, bukan Telaga Warna Dieng ya. Ini adalah Telaga Menjer. Letaknya tidak jauh dari Alun-Alun Wonosobo. Sangat asri, tidak banyak orang, pohon cemara yang berjejer menguasai perbukitan di sekitar telaga. Kabut tipis menutupi bukit di sekitar telaga. Terdapat kapal-kapal kecil di pinggir telaga yang biasa disewa pengunjung untuk berkeliling.

                “Mau ikut gak del? Aku mau minta tanda tangan ke pengurus Dieng.”

                “Gak, Kuh. Terlalu disayangkan kalau gak tidur siang di Dieng.”

                “Yowis, aku tinggal bentar ya.”

                “Emang tanda tangan buat apa?”

                “Buat ngurus Visa.”

                “WHAT?!! VISA?!! KEMANAAAA?!!” *gak santai*

                “Ke Jepang.”

                “WHAT?!! NGAPAEEEN?!! KERJA?!!

                “Jalan-jalan kok. Cuma 2 minggu. Kemarin dapet tiket promo.”

                “WAJIGURIK. TENANEEEE?!!”

Sebuah obroal singkat yang mengagetkan. Ini Kukuh! Cah Dieng! Maen2 sampe Jepang!! Dem!! *iri* *ceburin Kukuh ke kawah sikidang*

Pukul 5 sore saat Kukuh mulai meninggalkan saya di rumah seorang ranger Gunung Prau setelah 2 jam menghangatkan badan di depan perapian. Gelar SB, kemudian tidur siang. Emm.. tidur sore menjelang malam lebih tepatnya.

2 jam, 5 jam, 7 jam. WOY… UDAH JAM 12 MALEM INI!! Dalam hati saya cemas menunggu Kukuh yang tak kunjung pulang. Dia pikir saya tidur siang selama itu, batinku kesal.

Mencoba telpon Kukuh, HP dia mati. Dasar anak BB, gak biasa pake android. Wuuu… Kesel gak sih, nungguin orang gak jelas kapan dateng, gak jelas dia dimana, gak jelas dia siapa. ~Eh.

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, pukul 1 tengah malam, konon katanya ini adalah waktu hantu-hantu berkeliaran mengganggu orang tidur. Hujan yang tak kunjung berhenti sejak saya ditinggalkan Kukuh. Dan sosok itu akhirnya menampakkan wujudnya. Kakinya masih napak ke tanah, bukan hantu, tapi Kukuh. Walaupun sama-sama serem dan ngeselin.

                “Jadi mau tetep balik ke Jogja?”

                “Jadi dong, aku belum pamit orang tua.”

                “Tapi hujan, dan jam segini pasti kabut.”

                “Tapi aku belum pamit, Kuh. Bapakku sendirian di rumah.”

Packing. Lalu pukul 2 pagi meluncur menembus hujan dan kabut. Oke, sepertinya cuma kita yang setengah gila dan nekat yang berani pulang di saat puncak dingin. Iya, dingin di Dieng. Dan hujan.

Benar saja, kabut menutupi jalanan. Jarak pandang kami hanya 2 meter, dengan aspal yang licin, dan berkelok-kelok yang bagian bahu jalan -emm tidak ada bahu jalan- adalah jurang.

Tidak ada pengendara lain selain kami sampai Kota Wonosobo. Bukan perampok yang kami takutkan saat pulang tengah malam seperti itu, melainkan bayangan kami tentang longsor Banjarnegara, mengingat malam itu hujan tak kunjung berhenti sejak menjelang magrib tadi.

Jalur Magelang Wonosobo yang seharusnya bisa kita tempuh hanya dengan 2 jam, akhirnya kita lalui selama 4 jam. Sepertinya saya sedang ikut Ice Bucket Challenge. Tangan dan kaki saya beku. Jas hujan harga 3rb-an yang saya pakai memang efektif menangkal air, tapi tidak cukup mumpuni untuk menghangatkan badan saya.

Pukul 6 pagi, saya tiba di tempat ternyaman di dunia, kasur. *I want to marry my bed!*

Perjalanan singkat yang layak saya ceritakan. Oke, bukan untuk diceritakan, tapi untuk saya kenang sendiri, dan untuk orang-orang yang mau membacanya.