Mayoritas masyarakat memandang komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersek dan Queer (LGBTIQ ) sebagai kelompok menyimpang. Akibatnya, sedikit tokoh agama mau terlibat menjawab kebutuhan religius kelompok LGBTIQ. Komunitas semakin terpinggirkan dan terstigma. Berikut wawancara Novan dari Swara Nusa dengan Abdul Muis Gazali, mahasiswa Magister Pendidikan Pemikiran Islam Universita Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang saat ini menjadi pengajar di Pesantren Waria Al Fattah Yogyakarta.
Anda yakin Allah menciptakan waria?

Dalam Islam ada istilah “khuntsa”, di dalamnya merujuk pada identitas perempuan dan laki-laki , dan itu diakui Islam. Khuntsa itu perempuan dan laki-laki dalam satu tubuh (hermaprodit). Bagi saya ada dua hal, secara biologis dan psikologis. Biologis berbentuk jenis kelamin perempuan dan laki laki. Tapi ada juga identitas psikologis sebagai laki-laki dan perempuan, secara fisik laki- laki tetapi didalamnya perempuan.

Kuntsa pada awalnya hanya diakui sebatas dua jenis kelamin, tetapi setelah perkembangan pemikiran ternyata kuntsa termasuk juga waria dan itu kita akui, khuntsa memang ada dalam Islam dan diakui keberadaannya dalam Islam.

Waria sejak dulu sudah ada. Pemikirannya masih sempit, hanya dimaknai sebagai orang yang memiliki dua jenis kelamin sekaligus, bukan identitas sosial. Dari segi fiqih, dalam fasal sholat sudah ada penjelasan dari para ulama, bagaimana kuntsa sholat, bagaimana khuntsa menjadi imam.

Waria sering disebut sebagai pendosa.

Setiap orang mempunyai dosa. Saya memiliki dosa, anda memiliki dosa dan semua orang mempunyai dosa. Sampai kini pandangan masyarakat waria sebagai pendosa masih ada, dan pandangan mereka penyebar HIV dan AIDS masih ada.

Tetapi bagi kita, bagaimana menghormati mereka. Menurut penuturan waria sendiri, mereka berkeinginan ber-Tuhan. Ada rasa kehampaan di dalam dirinya, menginginkan untuk ber-Tuhan dan keinginan itu kita hormati. Lalu kita gali kembali, sehingga mereka benar-benar menemukan Tuhannya kembali. Kalau masalah dosa atau tidak, akan ditanggung sendiri-sendiri, kita hanya mengarahkan mereka pada jalan yang benar.

Pada umummnya orang berpikir bukankah itu dianggap dosa. Kita pun sering mengklaim, yang kamu lakukan itu dosa. Dosa itu menurut siapa? Padahal, apa yang kita lakukan itu dosa atau tidak yang menentukan menurut Allah. Allahu a’lam bi shawab.

Mengapa tertarik menjadi guru di Pondok Pesantren Waria?

Ada dua hal yang diberikan Allah, potensi berbuat baik dan potensi berbuat dosa. Yang kita gali potensi berbuat baik, keinginan ber-Tuhan. Jadi, jika mereka mempunyai dosa dan mendekatkan dirinya pada Tuhan, perlahan-lahan akan mengarah pada kebaikan. Dari pondok ini, saya tidak saja memberi, tetapi juga menerima.

Maksudnya?

Perjuangan mereka yang sangatlah luar biasa. Yang tidak bisa ditiru oleh saya, kesabarannya. Kalau seandainya saya pribadi diejek-ejek di Malioboro, ada dua hal bagi saya, rumah sakit atau mati. Ini yang perlu kita kagumi dari mereka.

Apakah akan mengembalikan mereka menjadi laki-laki?

Saya tidak akan mengarahkan mereka mau seperti apa modelnya. Terpenting bagi saya, menggali potensi dirinya untuk ber-Tuhan. Saya tidak mempersoalkan jenis kelamin. Tugas kita memberikan jalan bagi mereka untuk berbuat baik dengan menemukan Tuhannya.

Kita tidak perlu bangga menjadi laki-laki atau perempuan sejati, selagi yang kita lakukan penindasan. Itu yang tidak saya sepakati. Tetapi kalau kita arahkan pada perbuatan-perbuatan baik, kita pantas bangga. Bangga bukan dari jenis kelamin, tetapi bangga atas perbuatan baik.

Jadi bagi saya, waria mau jadi laki-laki sejati, perempuan sejati atau waria sejati, mau operasi atau tidak, saya tidak mempersoalkannya. Yang terpenting mereka mau ber-Tuhan, karena saya yakin ketika manusia menghubungkan diri kepada Tuhan, petunjuk menuju kebenaran akan hadir ditemukan. Kebenaran yang saya temukan dan yang mereka temukan belum tentu sama.

Mungkin saja sekarang waria itu dinilai jelek, tetapi mungkin tahun depan ada waria yang bisa jadi wali karena kesabarannya. Seperti dalam kisah-kisah para nabi, ada masyarakat yang karena kesabarannya bisa masuk sorga.

Bagaimana agar mereka bisa ber-Tuhan?

Kita mengarahkannya pada pelajaran-pelajaran keagamaan, memperkenalkan Tuhan pada manusianya, menggali jati dirinya. Karena kita berprinsip siapa yang tahu pada jati dirinya, dia akan tahu Tuhannya. Jadi arahnya pada kebutuhan ber-Tuhannya.

Tentang penolakan masyarakat terhadap waria untuk masuk masjid?

Sampai saat ini kami masih berusaha mensosialisaikan permasalahannya. Tetapi kalau pengusiran hingga kini belum ada. Untuk sementara ini persoalan waria berbeda dengan gay maupun laki-laki.

Penolakan biasanya dari komunitas, penolakan dari psikologi orang lain. Bukan Islam. Pada hakikatnya Islam menerima siapa saja, semua orang. Tuhan itu milik semua orang. Tidak ditentukan apa jenis kelaminnya.

Persoalan orientasi seks yang tak kunjung selesai?

Masih banyak masalah lain yang juga belum selesai, selain orientasi seks. Misalnya, pekerja seks. Bagaimana fiqihnya? Fiqihnya mengatakan haram, bagaimana solusinya. Saya pernah bertanya pada Bu Maryani, bagimana dengan pekerja seks. Banyak dari mereka juga pengen beribadah, tetapi mereka tidak diterima komunitas masyarakat di sekitarnya. Seolah-olah Tuhan milik kelompok tertentu saja.

Padahal semut pun mempunyai Tuhan. Banyak disebutkan dalam Alquran, misalnya, gunung bertasbih, masak manusia normal seperti mereka tidak boleh bertasbih, itu lucu menurut saya. Makanya, saya tidak mau masuk ke wilayah fiqih, karena wilayah fiqih adalah wilayah perdebatan. Justru akan menghilangkan nilai-nilai kesalehan kita. Perdebatan agama tidak menyelesaikan. Misalnya, saya pernah memulangkan 20 pekerja seks di sebuah lokalisasi di Jawa Timur dengan pendekatan agama. Berikutnya yang datang 60 orang. Menurut saya pendekatan agama tidak selalu selesai, bisa jadi karena faktornya ekonomi, dan itu yang harusnya diselesaikan.

Kita hidup bukan hanya sebatas untuk beriman pada Allah tapi juga berbuat baik pada sesama kita.

Para imam saja berbeda pendapat, padahal sebagian mereka satu disiplin ilmu. Sampai saat ini terjadi hegemoni tafsir oleh MUI, ini halal, ini haram. Saya tidak sepakat seolah-olah kita tidak dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Padahal kita berakal. Itulah yang dituntut Alquran, apakah kamu tidak berakal? Artinya kita dituntut menentukan diri sendiri.

Seandainya Allah mau, semua manusia akan beriman. Kepada yang tidak beriman saja kita tidak boleh membenci, apalagi kepada waria yang mereka itu beriman. Allah sendiri memberi pilihan. Allah itu ‘Maha Sombong’, tetapi tak pernah menampakan kesombongan-Nya, selalu menampakkan rahman rahim-Nya. Terlalu banyak dalam Alquran, yang menampakkan rahman rahim, bukan ‘jabar’ yang ditampakkan.

Cuma terkadang kita ini terlalu sombong. Misalnya, Ahmadiyah harus ikut Suni. Ini kan kesombongan. Sepertinya Allah hanya milik mereka. Saya kurang sepakat untuk itu, bukan salah hanya kurang sepakat, karena saya tidak mengikuti jalan itu.

Bagaimana dengan kosnep iman sholat bagi waria?

Dalam Islam kuntsa boleh menjadi imam dari perempuan, tetapi dia tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki. Saat jamaah di masjid waria itu bagian perempuan. Saya berpikir laki-laki itu wudhunya batal jika menyentuh waria. Karena waria pada prinsipnya, walaupun fisik laki-laki tetapi secara psikis identitasnya perempuan. Dan tidak batal waria bersentuhan dengan tubuh perempuan. Batal atau tidaknya ditentukan oleh potensi psikologisnya berat ke arah mana. Jadi yang menentukan bukanlah fisik alat kelaminnya, tetapi identitas apa yang ada di dalammnya.

Ini yang membuat Anda bekerja dengan waria?

Itulah kenapa saya siap di sini, karena saya berpikir disini. Ngapain mempermasalahkan fiqih. Misalnya tentang wudhu dipermasalahan, Imam Malik kalau tidak keliru, tidak mempermasalahkannya, karena masih menjadi perdebatan. Jadi kita harus memandang secara universal bukan hanya fiqih saja. nnbv

Tentang dosa homoseks yang dihubungkan dengan tragedi Sodom pada jaman nabi Luth?

Agamawan pun mengartikan waria identik dengan dosa dan selalu dihubungkan dengan tragedi Sodom. Yang perlu dibedah pijakannya, bagaimana hemaprodit, bagaimana homoseks, bagaimana transgender, bagaimana waria. Paling tidak dari pengertian itu dulu yang kita gali. Kita fokuskan artian setiap bicara waria, barulah kita cari dasarnya. Kisah ini menunjukkan adanya semacam prasangka dalam ruang komunikasi. Pengertian dari prasangka itu sendiri muncul atas dasar pengalaman yang dangkal dan salah. Kita bedah dari ilmu komunikasinya dulu.

Kenapa wacana pendosa ini terus bergulir?

Kita harus melihat posisi dan wacana seperti ini terus dikembangkan, tidak akan menyisakan ruang bagi wacana yang berbeda. Sehingga pengertian waria yang identik dengan Luth itu pemaksaan makna. Celakanya berbeda sering diartikan sesat. Ya, tidak. Sesat itu lagi-lagi menurut siapa?

Maksudnya?

Saya ingat cerita di zaman kekuasaan mu’tazilah, kaum Suni disebut sesat. Sekarang karena Suni yang berkuasa, Ahmadiyah yang sesat. Sangat mungkin kalau Ahmadiyah yang berkuasa, Suni yang sesat. Jadi masalah sesat tidak sesat itu perlu dilihat kembali agar tidak menjadi pertanyaan yang menjebak.

Kita tidak boleh saling menyesatkan dan saling menyalahkan, semuanya sangatlah relatif. Saya sering bilang, saya beragama Islam, anda beragama Islam, kita beragama Islam, Tuhan kita satu, Allah kita satu, tetapi Allah kita berbeda.

Mengapa bisa demikian?

Karena saya menggambarkan Allah sangat mungkin berbeda. Saya ambil contoh semut. Semut menggambarkan Allahnya dengan merangkak, kita menggambarkan Allah kita dengan berjalan di atas dua kaki. Jadi sangat tergantung pada kekuatan kita menggambarkan Allah kita. Nah, di situlah sebenarnya bagaimana menggambarkan Allah sangatlah tergantung dari kekuatan kita. Maka saya bilang Tuhan itu milik semua, tidak ditentukan dari jenis kelamin.

Anda sedang ingin mengatakan jenis kelamin menjadi bagian alat penindasan?

Bagi saya, identitas perempuan dan laki-laki merupakan jalan penindasan. Jenis kelamin, alat penindasan. Misalnya, mungkin kaum perempuan tidak menerima kaum waria karena takut tersaingi. Di antara sama-sama perempuan juga melakukan penindasan, misalnya, terhadap kelompok orientasi lain, lesbian. Di kelompok laki-laki juga melakukan penindasan pada kelompok gay. Kalau dalam Islam ada istilah Ar-Rijalu, itu bukan jenis kelamin, tetapi dipahami sebagai relasi kuasa.

Tentang perdebatan given dan konstruksi dalam wacana LGBTIQ?

Kalau saya tidak mau berdebat. Menurut saya tergantung dari kesanggupan menerima eksistensi mereka. Diperdebatkan juga belum tentu menyelesaikan masalah dan tak akan pernah selesai. Tergantung pada kesadaran kita untuk menerima kaum waria, karena waria adalah manusia.

Agenda ke depan?

Ya, dengan identitas bukan lantas menindas yang idenitas yang lain. Sebab, semakin diperdebatkan semakin meruncing. Kalau masuk di wilayah kesadaran, waria bagian dari Nabi Adam juga, mereka putra Adam, manusia biasa. Dengan memandang sebagai manusia, persoalan bisa selesai.

kontributor: [novan]

sumber : Swaranusa