traveller berbasis destinasi

Seketika semua orang tertawa ketika jawaban saya adalah “jakarta”. Ya itulah jawaban saya ketika ditanya oleh moderator tentang tempat mana yang menurut saya paling berkesan ketika traveling. Audience yang isinya adalah para pejalan dengan membawa bendera komunitasnya masing-masing sontak menertawakan jawaban yang terkesan aneh tadi. 
 
Saya hanya bisa terkejut melihat reaksi mereka yang seragam, bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan saya, tetapi ternyata tidak, hal yang membuat ruangan menjadi riuh adalah jawaban saya yang jauh dari ekspetasi mereka tentang destinasi yang menarik atau jauh dari hiruk pikuk kota. Mungkin saja kalau saya menjawab tempat yang paling berkesan adalah Kraton Yogyakarta, bisa jadi suasana menjadi semakin ramai.
 

Saya langsung terheran-heran dengan sikap para -yang notabene adalah seorang pejalan- tadi, mereka selalu menyebut seorang traveller adalah orang yang cukup dewasa dalam menjalani hidup ini, emm mungkin tidak semua tapi sebagian besar, tetapi yang terjadi adalah justru sebaliknya. Sikap kekanak-kanakan jelas terpampang di depan mata saya sendiri bahwa yang namanya traveling adalah jalan-jalan ketempat yang jauh, ke pantai, ke gunung, atau ke desa yang jauh dari hiruk pikuk kota.
 
Dimakah letak kesalahannya? Apakah saya yang salah dalam mendeskripsikan arti dari traveling itu sendiri? Atau saya yang terlalu tinggi dan terlalu jauh memaknai sebuah perjalanan?
 
Sangat menggelitik sebenarnya, karena trend yang sedang berkembang saat ini adalah seorang pejalan selalu mengkampanyekan untuk menjaga alam agar tetap lestari, terjaga keseimbangannya agar anak cucu mereka kelak bisa menikmati keindahan alam yang sama dengan yang mereka alami saat ini, kemudian menyudutkan orang-orang lain yang tidak suka traveling sebagai perusak alam. Bukankah sangat lucu bila sebagian besar pejalan dengan bangganya menyebut traveling adalah cara kita untuk menjadi dewasa, tetapi justru yang terjadi adalah sebaliknya. Lalu apa kabar dengan orang-orang yang tidak melakukan traveling?
 
Traveller tidak bisa dituntut juga bila ada pertanyaan kenapa para traveller ini belum juga dewasa. Karena kedewasaan tidak bisa diukur dari seberapa sering mereka melakukan perjalanan atau seberapa lama mereka mulai melakukan hobi jalan-jalan ini. Kedewasaan berkembang karena traveller memaknai perjalanan mereka tidak sekedar untuk merefresh otak mereka, tetapi ada hal yang harus dipelajari dari setiap langkah kaki mereka. Sayangnya, tidak semua traveller memahami hal tersebut.
 
Destinasi yang menarik untuk dipubilsh di internet adalah salah satu tujuan mereka melakukan travelling. Hal ini diamini oleh penyelenggara-penyelenggara talkshow atau sekelas seminar nasional. Tema yang umum diangkat adalah bagaimana caranya untuk berani melakukan travelling dan mengajak calon traveller untuk mengunjungi sebuah destinasi yang unik, sehingga goal-nya adalah traveller berbasis destinasi, menjadi dewasa hanya sekedar bonus. 
 

2 thoughts on “traveller berbasis destinasi

  1. Salah satu pameo paling populer di antara mereka yang suka bertualang adalah “it’s not about the destination, but the journey itself.” Tanpa melakukan perenungan pun saya rasa setiap orang mampu mengartikan sepotong kalimat tersebut.

    Tapi yang menjadi masalah akhir-akhir ini adalah orang-orang yang suka berkelana lebih mementingkan “role sign”-nya tinimbang “role”-nya sendiri. Maka muncullah fenomena berlomba-lomba mempertontonkan atribut; Menunjukkan eksistensi kelompok, dan lain-lain.

    Agustinus Wibowo berkelana seorang diri. Begitu pula Santiago dalam kisah The Alchemy. Mereka tak peduli dengan label, status, cap, sebab yang mereka rindukan adalah hakikat.

    1. lirik lagu Gie, “berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya” juga rupanya tidak “sampai” kepada mereka.

      ingin dicap sebagai seorang yang telah dewasa, sehingga melakukan perjalanan kesana-kemari, tetapi rupanya ego mereka lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *