IMG_6541

Setelah menggeber Jimny tua secepat kilat, akhirnya kami tiba di sebuah warung dengan pencahayaan seadanya di pinggir jalan di antara ribuan hektar hutan karet dan sawit. Syukron masih tampak beroman pucat, atau memang begitulah paras Syukron setiap harinya, walaupun baru setengah jam kami berpisah untuk menjemput Kang Hendra yang memutuskan berhenti berlari di tengah jalan yang mulai gelap.

Selama hampir 3 minggu mengawal Kang Hendra yang berniat berlari dan bersepeda dari ujung Pulau We sampai dengan Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Setiap hari kami mengawasi agar segala kebutuhannya dapat segera terpenuhi, begitu juga memastikan memberi rasa aman dari gangguan termasuk malam itu, namun ternyata setelah sekian hari, kami kecolongan dan mengabaikan bahwa tanah Sumatera masih belum habis kami jelajahi meskipun sudah memasuki daerah Mesuji, sebuah kecamatan di perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung.

“Memang di sini rawan banget, mas. Banyak begal kalau udah mulai gelap.” Kata bapak-bapak tua di warung yang disinggahi Syukron untuk berlindung dari gangguan begal. Sebuah kalimat yang membuat kami kaget setelah melewati Kota Merlung yang konon merupakan daerah paling rawan seantero jalur lintas timur Sumatera.

Merlung adalah sebuah kecamatan di daerah Jambi. Perkebunan sawit sejauh ratusan kilometer yang kami lewati adalah salah satu faktor tingkat kriminalitas di daerah ini cukup tinggi. Banyak perampokan bahkan pembunuhan terjadi di sepanjang jalur timur Sumatera ketika melewatinya, untungnya tidak ada satupun kendala yang kami hadapi selama perjalanan melewati jalur yang konon paling rawan ini.

1 jam sebelum meninggalkan Kang Hendra dan Mak Del yang berlari sejauh 42 kilometer, kami melaju kencang guna mempersiapkan segala kebutuhan setibanya mereka berdua di penginapan. Sembari menunggu, sunset tampak menggoda untuk terus kami abadikan, karena kesempatan untuk menikmati senja adalah sesuatu yang langka selama perjalanan berhari-hari itu.

Laju Sepeda_Deli_Choice

lk km

Mesuji tampak indah sore itu. Padang rumput terbentang sepanjang mata memandang, awan putih bergradasi keemasan, dan 2 orang anak kecil yang berlarian mengejar drone yang terbang di atasnya cukup membuat saya terhibur. Setengah jam setelahnya, Kang Hendra memberi kabar untuk dijemput dan membawa sepedanya untuk mengejar ketertinggalan waktunya karena hari mulai tampak gelap.Dengan sigap, karena telah terlatih selama sekian hari, segera menggeber van kami menuju 20 kilometer ke belakang, menjemput Mak Del dan Kang Hendra yang telah terjebak gelap di tengah hutan karet Mesuji. Syukron dan Imam kali ini yang bertugas menjemput mereka berdua. Sisanya, kami menunggu di rumah makan padang sebelah hotel kami menginap.

Barang-barang kami letakkan di pinggir meja makan. Sekitar 20 menit ketika semua telah selesai menyantap makanannya masing-masing, saya masih sibuk menghabiskan daging-daging yang menempel di tulang ayam yang saya pesan. Tiba-tiba Bram berteriak dari luar, “Del, Del, Buruan!” sebuah teriakan penuh tekanan yang belum pernah saya dengar sebelumnya, menandakan ada sesuatu yang aneh ketika Mang Boughil, Bram dan Deta telah berada di dalam mobil Jimny hitam dengan mimik muka cemas. Saya yang masih belum selesai dengan urusan dengan ayam goreng, harus berlari secepat Jimny, mengiyakan bahwa telah terjadi sesuatu yang memaksa saya harus meninggalkan makanan dan barang bawaan di samping meja makan.

“Del, Syukron dibegal!” kata Bram yang menyulut kegilisahan saya kian menjadi-jadi. Semua terlihat gelisah, Bram masih melihat maps di handphonenya, sambilmenjalankan mobilnya Mang Boughil menyiapkan golok yang ia simpan di belakang jok supir, dan deta sibuk mencari botol kaca untuk senjata ketika kami berpapasan dengan begal di tengah jalan, atau ketika kami sampai, Syukron sedang dalam kondisi darurat dikepung oleh para begal yang sejak lama menyerangnya.

IMG_8458

Jalanan sore yang kami lewati sebelumnya tampak lebih mengerikan di kala malam. Tidak ada lampu jalan, hanya lampu-lampu kendaraan yang menerangi lintasan, sesekali tampak rumah makan dengan sekelumit pencahayaan. Truk-truk berjalan mengekor panjang, membuat kami semakin cemas karena memperlambat laju kami menyusul Syukron yang entah bagaimana nasibnya kala itu.

Sekitar 3 kilometer sebelum titik lokasi yang dikirim oleh Syukron terdapat pemeriksaan jembatan timbang. Tampak warga lokal sedang mangkal di sekitarnya. Entah bagaimana ceritanya Syukron dibegal di sekitar keramaian seperti ini. Tak lama, kami melihat van merah sedang terparkir di depan warung makan.

Imam dan Syukron sedang duduk di antara bapak-bapak penjaga warung, namun segera mendatangi kami ketika mobil Jimny hitam memasuki area parkir rumah makan yang cukup luas. Syukron masih tampak bermuka ketakutan, begitu juga dengan Imam, meskipun sepertinya sang begal gagal beraksi malam itu.

IMG_9772

Bertemu dengan Syukron dan Imam bukanlah pekerjaan rumah yang telah kami selesaikan, masih ada Kang Hendra dan Mak Del yang masih berlari di malam yang kelam. Mengingat tugas utama adalah melindungi Kang Hendra dan Mak Del, meskipun keselamatan Syukron dan Imam juga sangat penting, namun kedua orang yang sedang berlari ini merupakan tujuan kami bergerak menjelajahi tanah Andalas.

“Mak, kalo ada warung di dekat situ, mending nepi dulu aja. Ini kita meluncur ke sana.” Pesan Mang Boughil kepada Mak Del melalui telepon. Setidaknya dengan adanya respon dari Mak Del, cukup membuat kami sedikit lega. Dengan petunjuk lokasi yang diberikan oleh Mak Del, kami segera menuju ke posisi mereka yang tak jauh dari rumah makan tempat kami menjemput Syukron.

Sebuah warung kecil di pinggir jalan di tengah kampung, Kang Hendra dan Mak Del sedang beristirahat sembari mengunyah gorengan yang disediakan warung itu. Kampung ini tampak ramai, lebih bercahaya daripada hutan karet yang sedari tadi kami lewati. Namun, ditengah keramaian jalanan dan benderangnya lampu-lampu rumah yang berjejer di pinggir jalan tetap membuat saya merasa merinding. Setiap mata warga kampung memandangi kami seolah kami adalah sasaran empuk. Buru-buru kami mengangkut Kang Hendra dan Mak Del menuju hotel.

“Ada apa?” Tanya Mak Del. “Gakpapa Mak, tadi Syukron cuma dipepet orang aja.” Jawab Bram mencoba sedikit mendamaikansuasana. “Tadi kita dipepet orang juga, sambil nanya darimana” timpal Mak Del. “Begitu saya jawab dari Aceh, langsung dibalas, mati kalian semua!”

Sepertinya kejadiaan dipepet orang membuat Kang Hendra menurut,untuk menyelesaikan perjalanan malam itu.Semua orang mengiyakan bahwa di kampung ini bukanlah tempat yang aman untuk berlari, apalagi di malam hari.

IMG_9587