Di awal tahun. Penghujung bulan Januari. Saya dan beberapa travelmate mengagendakan melakukan perjalanan ke Desa Patakbanteng. 1 km sebelum memasuki Desa Dieng via Kota Wonosobo. Sebuah desa yang 3 tahun belakangan ramai dikunjungi pendaki.

Sebelumnya ketika Gunung Prau mulai ramai dibicarakan orang, desa ini hanyalah desa kecil dengan mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Kentang dan carica mendominasi, beberapa seperti bayam dan cabai khas Dataran Tinggi Dieng pun sebagai alternatif sayuran yang mereka tanam.

Tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dan Wonosobo dengan ketinggian 2.565 meter, Gunung Prau sudah bukan lagi menjadi alternatif tujuan wisata di Dataran Tinggi Dieng, melainkan sudah menjadi primadona baru bagi wisatawan baik dalam dan mancanegara, dan Desa Patakbanteng sebagai salah satu basecamp jalur pendakian yang paling ramai dibandingkan dengan Basecamp Dieng untuk mendaki Gunung Prau.

 

“Lho, gak jadi reboisasi, Kuh?”
“Jadi. Santai, cari sarapan dulu.”
“Oh, siap!”

Pukul 9 pagi ketika telah selesai packing dan mengisi perut kami dengan porsi balas dendam setelah semalaman kami menahan lapar.
Pendakian pun dilakukan. Persiapan yang seadanya, mengingat rombongan kami ditemani dengan ranger-ranger Gunung Prau. Tuan rumah kami menyebutnya. Sekelompok orang yang hidup dari dan untuk gunung. Sebagian membawa cangkul, sebagian lain membawa arit. Kami, membawa hammock!

“Aku gak punya peralatan gunung, mas.”
“Gak masalah, bawa peralatan seadanya aja, cuma sampai pos 2 kok.”
“Gak perlu ngecamp kan?”
“Gak usah, tapi jangan lupa bawa hammock.”

Begitu pesan saya kepada teman-teman yang berangkat dari Jogja. Membawa 1 hammock sama saja dengan membawakan untuk mereka, pikirku. Ketika lebih dari 4 orang, dan hanya 1 hammock yang tersedia, bukan pemiliknya yang akan memakai, melainkan orang lain yang penasaran berayun-ayun di antara pepohonan.

Reboisasi adalah tujuan kami mendaki Gunung Prau. Bibit pohon telah disediakan oleh pihak Perhutani. Tuan rumah mempersiapkan semua perlengkapan, dan kami mencoba membantu dengan pengetahuan berkebun yang seadanya.

Cuaca sangat cerah. Bahkan saking cerahnya, seakan matahari tepat 10 meter di atas kami. Panas sekali. Seolah kita tidak sedang berada di Dataran Tinggi Dieng.

Pos 1 dengan jalanan batu yang tertata, memudahkan ojek motor melaluinya. Ya, ojek. Ojek yang biasa dipakai oleh pendaki untuk mempersingkat waktu sampai dengan pos 1. 30 menit kemudian kami sampai di Pos 2. Sebuah pos dimana sekelilingnya adalah lahan pertanian.

“Lho pada kemana mas?” tanya saya kepada 2 orang ranger yang sedang istirahat.
“Udah pada naik ke atas, mas”
“Masih banyak gak bibitnya?”
“Masih kok. Belum slesai”
Segera mempercepat langkah kaki kami, berharap masih ada sisa bibit yang bisa kita tanam.
Pos 3 Cacingan merupakan hutan hasil reboisasi tahun-tahun sebelumnya. Beberapa pohon pinus yang tumbuh di pinggir jalur pendakian adalah hasil tanam oleh warga sekitar sejak 10 tahun lalu. “Jadi seperti ini 10 tahun lagi pohon yang akan saya tanam ini? Sepertinya menyenangkan melihat pohon yang pernah kita tanam masih bisa bertahan selama itu.” Pikirku dalam hati.

Rasa lelah setelah mendaki selama 3 jam itu pun tiba-tiba sirna. Meskipun tidak ada seorang tuan rumah-pun di pos 3 ini, kami terus melangkahkan kaki untuk bisa sampai di puncak gunung, berharap mereka masih menyisakan beberapa bibit untuk kita rombongan yang datang terlambat.

“Wuuuu.. Telaat!! Wis bubaarrrr!! Hahaha…”
“Katanya di pos 2 woooo!!”
sahut Kukuh membalas teriakan puluhan ranger yang sudah sejak pukul 6 pagi mereka mulai menanam bibit.
“Yowis gini aja, tanem pohon ini aja.” Sambil menunjuk puluhan bibit yang belum sempat ditanam minggu lalu.
“Oke gak masalah, yang penting sampe sini ada kerjaan. Hahahaha.”

Ketua rombongan kembali membagi tugas untuk seluruh ranger yang sedang istirahat di bawah pohon. Beberapa menanam bibit di salah satu bukit, beberapa memungut sampah. Kami menjadi satu kelompok, bertugas menanam bibit di bukit yang lain. Tentu saja sambil mencari kumpulan pohon yang akan menjadi rumah kami untuk memasang hammock setelah selesai menanam bibit.

30 menit sejak kita mulai menanam bibit, hujan deras tiba-tiba membuat semua orang berlarian mencari tempat teduh. Tentu saja sangat sulit mencari pohon besar di puncak gunung ini, karena mayoritas adalah perbukitan gundul. Tanpa ada komando, puluhan orang ini berkumpul di bawah pohon yang sama.

“Oke sepertinya cuaca sedang tidak mendukung. Bersih-bersih gunung dan tanam bibitnya selesai sampai sini dulu. Bibit yang belum ditanam ditinggal disini saja. Sampah-sampahnya dikumpulin jadi satu dan besok kita kesini lagi untuk dibawa kebawah. Terima kasih buat temen-temen dan rombongan dari Traveller Kaskus yang sudah mau bantu.”

Hujan deras ini membuyarkan niat kami untuk tidur siang dengan hammock. Membuyarkan niat kami untuk foto di puncak Gunung Prau yang sedang kosong. Tapi ada rasa puas tersendiri telah menanam bibit pohon yang kelak entah 5 tahun, 10 tahun, atau bahkan 20 tahun kemudian akan menjadi rumah bagi pendaki-pendaki dengan hammock-hammock kebanggaan mereka.

 

 

-93 Million Miles-