Apa kabar Marisa? Malam ini aku ingin bercerita tentang indahnya negeri ini seperti mimpi-mimpi kita dahulu. Kita yang menunggu dengan sabar untuk bisa berpetualang bersama, berdua mengarungi lautan yang tak ada habis-habisnya, memasak nasi orak-arik di dinginnya gunung, dan melompat di tingginya air terjun. Ah, seandainya semua itu bisa kita lakukan bersama, mungkin akan menjadi cerita manis untuk anak cucu kita kelak bahwa indonesia adalah negeri yang indah.

Mar, pagi tadi aku mendengar sirine tanda adanya aktivitas Gunung Merapi. Mengingatkanku akan keisenganmu dulu yang mencoba mencuri alat-alat berat itu agar kamu tidak lagi merasa takut, berlarian di tengah malam untuk menyelamatkan diri dari wedus gembel itu. Untung saja niatmu dulu ketahuan bapak, jadi kita di sini masih bisa berkebun, bermain air di sungai dan berjumpa dengan pagi-pagi yang dingin lainnya.

Sejujurnya bukan itu yang ingin aku ceritakan kepadamu, Mar. Aku yang sekarang, yang tumbuh dengan pecinta alam lain mempunyai mimpi baru. Mimpi yang mungkin kamu juga ingin pergi kesana jika aku selesai menceritakannya.

Sebuah foto di twitter membuatku melongo lama melihatnya, terkagum-kagum dengan keindahannya. Seperti tidak percaya bahwa di negeri kita ini ada pulau-pulau yang berjejer seperti itu, dengan air yang berwarna-warni. Aku pikir pulau-pulau semacam itu hanya ada di Pulau Seribu. Aku mengecil, tidak lama aku menjadi sangat bersemangat.

Kamu tidak akan percaya dengan foto itu, bukan sotosop atau foto yang diambil di negara tetangga. Raja Ampat namanya, tidak jauh dari Sorong di Papua. Ada Susi Air yang terbang dari Sorong ke Raja Ampat, atau kalaupun tidak banyak uang kita untuk membayar pesawat itu, kita bisa memilih kapal perintis, kapal wisata atau kapal ASDP jurusan Sorong-Saonek dan Waisai. Tenang saja Mar, tidak perlu kita khawatir dengan jadwal kapal-kapal ini berlayar, karena setiap jam 1 siang kapal feri ini siap mengangkut kita ke Raja Ampat.

Marisa yang sangat sangat sangat aku rindukan, pemandangan di sana sangat mengagumkan dengan empat gugusan pulau terbesarnya, yaitu Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Percayakah kamu kalau hanya melihatnya dari foto saja sudah membuatku merinding?

Banyak hal yang bisa kita lakukan disana, Mar. Meskipun aku tahu kamu tidak bisa menyelam, tapi aku yakin hanya dengan berenang di permukaan saja kamu sudah bisa melihat karang yang berwarna-warni. Kalau saja di sana kamu bisa mengakses internet, cobalah buka indonesia.travel. Bayangkan kamu berenang dengan 1.320 spesies ikan di Raja Ampat. 75% seluruh spesies karang yang ada di dunia, 10 kali lipat jumlah spesies jumlah karang yang ditemukan di Karibia, terdapat 600 spesies karang yang tercatat, 5 spesies penyu laut langka, 57 spesies udang mantis, 13 spesies mamalia laut, dan 27 spesies ikan yang hanya kita temukan di wilayah ini. Mengagumkan bukan?

Oiya Mar, kemarin aku dan bapak pergi berkemah bersama, membicarakan hal yang sama kami pikirkan, tentang kelakuan-kelakuan konyolmu saat kecil dulu. Belajar berenang yang hampir menenggelamkanmu di waduk dekat rumah. Kami juga membicarakanmu yang muntah di kasur gara-gara kami paksa makan ikan, padahal kami tahu kamu sangat benci makan ikan. Tapi ini bukan mau menakut-nakuti kamu, Mar. Di Raja Ampat ada sup ikan kuning. Aku harus cicipin masakan khas ini nanti.

Disana kita tidak perlu khawatir, karena akan ada nelayan yang menjadi pemandu wisata dan sangat ramah yang akan memandu kita mengelilingi pulau-pulau tadi. Apalagi bila kita memberi mereka buah pinang atau permen, karena dengan memberi permen dianggap bentuk sopan santun dan mampu mencuatkan senyum sang nelayan.

Di malam yang dingin ini, tiba-tiba aku teringat kata-kata mutiara dari bapak dulu.

“Rasa ingin tahu itu adalah awal dari sebuah petualangan”.

Ingatkah kamu kata-kata itu, Mar? Masihkah kamu jaga mimpi-mimpi itu untukku? Tak perlu kamu bertanya balik kepadaku, karena sampai sekarang pun aku masih bermimpi berpetualang bersama denganmu. Sebaiknya kau pun begitu.

Marisa yang paling cantik di dunia, aku tahu disana kamu sedang melihatku, menangis di malam yang sama karena kita saling merindukan. Aku percaya, kamu yang di surga sana pasti sedang berbahagia melihatku yang sekarang, aku yang masih diberi kesempatan untuk menikmati indahnya negeri ini. Tapi asal kamu tahun Mar, aku yang bahagia mengelilingi negeri nan indah ini akan lebih bahagia bila aku bisa berpetualang bersamamu, menyelami indahnya bawah laut Raja Ampat.

Bila waktunya tiba diriku menjelajahi kepulauan itu nanti, akan aku pamerkan foto-foto ikan dan karang itu kepadamu, agar kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat menyelami lautan itu. Tentu saja kamu bisa membayangkan serunya berlibur kesana bukan? Aku juga tidak akan melupakan untuk membuatkanmu patung kayu karyaku sendiri yang dipandu pengrajin Asmat, juga akan aku bawakan oleh-oleh kerajinan anyaman dari Arborek.

Seandainya nanti mimpi ini terwujud Mar, sepulang dari sana aku berjanji akan membelikan bapak sebuah motor baru, agar bisa lebih bersemangat mengantar anak orang ke sekolah setiap paginya. Meskipun uangnya tidak seberapa sebagai tukang ojek, tapi aku ingin melihat bapak tidak kesusahan lagi mendorong motor tuanya saat bertugas.

Marisa, tidak terasa hari semakin pagi, dan aku harus menyiapkan nasi orak-arik untuk dijual di warung sederhana kita. Lain kali akan aku ceritakan lagi mimpi-mimpiku yang baru, berpetualang menikmati tanah air ini. Tak lupa doaku kepadamu.

sumber foto: indonesia.travel