Pernah suatu ketika ayah menemukan setumpuk buku fikih di dalam kamarku, bukan tentang hukum-hukum syari’ah praktis, tetapi lebih kepada bagaimana kita mencari kebenaran akan beragama, bertuhan. Sejatinya mempelajari fikih merupakan kewajiban bagi setiap muslim, seperti dalam hadist riwayat Tirmizi:

“Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memberikan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya karena senang kepada orang yang menuntut ilmu.”

Kegelisahan akan bertuhan menjadikan saya menjadi pribadi yang tidak langsung mengamini suatu ajaran agama seperti yang pernah saya tulis dalam blog ini beberapa bulan yang lalu. Penuh pertanyaan; ada apa dibalik saya membaca Al Quran, menjalankan ibadah sholat 5 waktu, puasa, dan sebagainya. Karena apa yang saya pahami, keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan, tetapi kita yakini. Sehingga untuk mencari tuhan bukan dari belajar dari buku atau uztad, melainkan proses kita mencari tuhan yang nantinya akan menuntun kita meyakini Tuhan secara utuh. Sama halnya ketika Nabi Ibrahim yang meyakini Tuhan berawal dari keyakinannya bahwa Matahari, Bulan, dan Bintang adalah sosok Tuhan yang sesungguhnya.

Bukankah bila kita meyakini sosok Tuhan seperti yang uztad-uztad sampaikan, sama halnya kita meyakini Tuhan adalah imajinasi uztad-uztad itu sendiri? Yang pada akhirnya kita menyekutukan Tuhan itu sendiri karena tidak ada keyakinan yang berawal dari dalam diri kita sendiri.

***

Bagi orang tua yang masih memegang nilai-nilai agama yang konservatif, bisa jadi hal semacam itu tidak kemudian dipahami oleh mereka, karena penyebaran islam pada masanya berawal dari proses akulturasi budaya dan agama yang berimbas pada kepercayaan yang penuh kepada apa yang mereka yakini, dalam hal ini adalah Tuhan dan para walinya. Ditambah fenomena kekerasan berbasis agama belakangan ini yang kemudian menumbuhkan sikap yang anti terhadap golongan tertentu.

Saya teringat pada satu buku Allah, Liberty, and Love karya Irshad Manji yang pernah saya baca. Ada beberapa hal yang tidak perlu begitu kita pedulikan, persetujuan orang lain. Jika mereka tidak menolerir rasa ingin tahu kita, mengapa mereka yang berpikiran sempit dapat menikmati kekuasaan untuk mendefinisikan martabat kita? Aku teringat saat bertanya kepada ibuku sendiri (yang pertalian darahnya begitu berarti segala-galanya), “jika si anu bukan keluarga kita, akankah aku menghormatinya sampai ingin menjadikannya sebagai teman?”

Sultan Abdul Hameed, seorang yang sangat aktif terlibat dalam Gerakan Reformis Muslim di New York, dalam rangkaian esainya, The Quran and the Life of Exellence, memperingatkan agar tidak menuhankan keluarga, “Jika kita membiarkan didikte oleh takhayul dan prasangka yang diturunkan oleh nenek moyang kita, maka kita mengatribusikan kewenangan pada sesuatu selain Tuhan, yang menginginkan kita untuk hidup secara sadar dan bertanggung jawab atas kehidupan kita.”

**

Tanggapanku ke mereka semua adalah, sebelum kalian memutuskan tak sanggup mengecewakan keluarga, renungkanlah salah satu ayat yang paling tidak diindahkan di dalam Al-Quran:

wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (4:135).

Ayat ini merupakan panggilan untuk jujur, tanpa peduli siapa pun yang akan tersinggung karenanya. Bagaimana mungkin keluarga tradisional mau melawan Al-Quran? Mereka tidak akan berani mencobanya. Namun begitu, mereka akan selalu mencari-cari dalih untuk mengecilkan makna yang dimaksud ayat tersebut, sehingga mengutip ayat saja tidaklah cukup untuk berbicara benar terhadap pihak yang berkuasa dalam keluarga.

Irshad Manji juga menyebutkan tentang “sensor diri” dimana seseorang akan cenderung menutupi kegelisahannya akan dogma yang diajarkan oleh orang tua mereka sehingga yang terjadi adalah dihantui bayang-bayang kehormatan orang tua mereka. Jika “agama damai” dianut oleh sekian banyak nurani yang secara diam-diam bergejolak, maka tak ada lagi perdamaian yang perlu dibicarakan. Tak ada juga keyakinan, yang ada hanyalah dogma.

Umat muslim memandang Islam adalah “jalan yang lurus”, tetapi jalan yang lurus pun bisa berupa “jalan lapang”, yang menghubungkan kita kepada Tuhan yang lebih tinggi daripada keluarga biologis, melampaui komunitas lokal, dan lebih transenden daripada kelompok muslim internasional. Muslim adalah monoteis. Untuk menjadi monoteis, anda harus menerima bahwa Allah mengetahui kebenaran yang utuh, sementara manusia tidak. Sebagai monoteis, kita pun tidak mungkin memainkan peran Tuhan. Mengakui Tuhan yang Maha Bijaksana berarti mengetahui kebijaksanaan kita terbatas dan karena itu membolehkan beragam gagasan berkembang. Sehingga, menciptakan masyarakat yang di dalamnya kita bisa tidak setuju satu sama lain tanpa saling menyakiti secara fisik, dan memaklumi bahwa itu tergolong tindakan beriman.